Digunakan untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah Sosiologi Sastra dengan dosen pengampu Dr. Maman Suryaman.

 

 

 

 

Oleh

Hamdan Nugroho

07201241024

 

PROGRAM STUDI

PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

FAKULTAS BAHASA DAN SENI

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

2011


BAB I

PENDAHULUAN

  1. A. LATAR BELAKANG

Salah satu jenis karya sastra yang menarik untuk dikaji ialah novel. Pengkajian terhadap salah satu genre karya satra tersebut dimaksudkan selain untuk mengungkapkan nilai estetis dari jalinan keterikatan antar unsur pembangunan karya satra tersebut, juga diharapkan dapat mengambil nilai-nilai amanat di dalamnya. Nilai-nilai amanat itu merupakan nilai-nilai universal yang berlaku bagi siswa seperti nilai moral, etika, religi. Nilai-nilai amanat itu tercermin dalam tokoh cerita, baik melalui deskripsi pikiran, maupun perilaku tokoh.

Novel selain untuk dinikmati juga untuk dipahami dan di manfaatkan oleh masyarakat. Dari sebuah novel dapat diambil banyak manfaat. Karya satra (novel) menggambarkan pola pikir masyarakat, perubahan tingkah laku masyarakat, tata nilai dan bentuk kebudayaan lainnya. Karya sastra merupakan potret dari segala aspek kehidupan masyarakat. Pengarang menyodorkan karya satra sebagai alternatif untuk menghadapi permasalahan yang ada mengingat karya satra erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat. Hal ini sesuai dengan asumsi bahwa  sastra diciptakan tidak dalam keadaan kekosongan budaya.

Novel ayat-ayat cinta karya Habiburrahman El Shirazy yang dijadikan sebagi  bahan pembelajaran ini, kehadirannya tentu tidak dalam kekosongan budaya. Pengarang tentu saja melihat suatu tata nilai yang terdapat di dalam  masyarakat, kemudian  ia menanggapinya melalui karya sastra. Novel Ayat-ayat Cinta menceritakan kehidupan seorang pemuda yang bernama Fahri, memiliki sifat sabar, ramah, serta tawakal mengahdapi ujian.

Novel ini sangat ideal untuk bahan pembelajaran karena di dalam novel Ayat-ayat Cinta pengarang memiliki tujuan yang untuk di sampaikan  kepada pembaca. Novel ini banyak mengandung pesan dan nasehat luhur. Apabila pembaca mampu mengambil pesan dan amanat ini maka ia akan berhasil dalam menjalani hidup. Novel Ayat-ayat Cinta ini bahkan difilmkan dan mendapat sambutan baik oleh pemirsa dengan mencatatkan 2 juta pemirsa dalam waktu 2 minggu. Novel ini tidak mustahil mengandung nilai-nilai akhlak mulia, nilai-nilai ini dimunculkan lewat perilaku tokoh utama.

  1. B. RUMUSAN MASALAH
    1. Adakah hubungan antara latar belakang sosial pengarang dengan karyanya?
    2. Bagaimana penggunaan karya sebagai penyalur pendapat pengarang berdasarkan latar belakangnya?

 


BAB II

KAJIAN TEORI

  1. A. PROFIL HABIBURRAHMAN EL SHIRAZY

lahir di Semarang, Jawa Tengah, 30 September 1976. Beliau adalah sarjana Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir dikenal sebagai dai, novelis, dan penyair. Karya-karyanya banyak diminati tak hanya di Indonesia, tapi juga negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura dan Brunei. Karya-karya fiksinya dinilai dapat membangun jiwa dan menumbuhkan semangat berprestasi pembaca. Diantara karya-karyanya yang telah beredar di pasaran adalah Ayat-Ayat Cinta (telah dibuat versi filmnya, 2004), Di Atas Sajadah Cinta (telah disinetronkan Trans TV, 2004), Ketika Cinta Berbuah Surga (2005), Pudarnya Pesona Cleopatra (2005), Ketika Cinta Bertasbih (2007), Ketika Cinta Bertasbih 2 (Desember, 2007) dan Dalam Mihrab Cinta (2007). Kini sedang merampungkan Langit Makkah Berwarna Merah, Bidadari Bermata Bening, dan Bulan Madu di Yerussalem.

Memulai pendidikan menengahnya di MTs Futuhiyyah 1 Mranggen sambil belajar kitab kuning di Pondok Pesantren Al Anwar, Mranggen, Demak di bawah asuhan K.H. Abdul Bashir Hamzah. Pada tahun 1992 ia merantau ke kota budaya Surakarta untuk belajar di Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK) Surakarta, lulus pada tahun 1995. Setelah itu melanjutkan pengembaraan intelektualnya ke Fakultas Ushuluddin, Jurusan Hadist Universitas Al-Azhar, Kairo dan selesai pada tahun 1999. Pada tahun 2001 lulus Postgraduate Diploma (Pg.D) S2 di The Institute for Islamic Studies di Kairo yang didirikan oleh Imam Al-Baiquri.

Ketika menempuh studi di Kairo, Mesir, Kang Abik pernah memimpin kelompok kajian MISYKATI (Majelis Intensif Yurisprudens dan Kajian Pengetahuan Islam) di Kairo (1996-1997). Pernah terpilih menjadi duta Indonesia untuk mengikuti “Perkemahan Pemuda Islam Internasional Kedua” yang diadakan oleh WAMY (The World Assembly of Moslem Youth) selama sepuluh hari di kota Ismailia, Mesir (Juli 1996). Dalam perkemahan itu, ia berkesempatan memberikan orasi berjudul Tahqiqul Amni Was Salam Fil ‘Alam Bil Islam (Realisasi Keamanan dan Perdamaian di Dunia dengan Islam). Orasi tersebut terpilih sebagai orasi terbaik kedua dari semua orasi yang disampaikan peserta perkemahan tersebut. Pernah aktif di Mejelis Sinergi Kalam (Masika) ICMI Orsat Kairo (1998-2000). Pernah menjadi koordinator Islam ICMI Orsat Kairo selama dua periode (1998-2000 dan 2000-2002). Sastrawan muda ini pernah dipercaya untuk duduk dalam Dewan Asaatidz Pesantren Virtual Nahdhatul Ulama yang berpusat di Kairo. Dan sempat memprakarsai berdirinya Forum Lingkar Pena (FLP) dan Komunitas Sastra Indonesia (KSI) di Kairo.

Setibanya di tanah air pada pertengahan Oktober 2002, ia diminta ikut mentashih Kamus Populer Bahasa Arab-Indonesia yang disusun oleh KMNU Mesir dan diterbitkan oleh Diva Pustaka Jakarta, (Juni 2003). Ia juga diminta menjadi kontributor penyusunan Ensiklopedia Intelektualisme Pesantren: Potret Tokoh dan Pemikirannya, (terdiri atas tiga jilid ditebitkan oleh Diva Pustaka Jakarta, 2003).

Antara tahun 2003-2004, ia mendedikasikan ilmunya di MAN I Jogjakarta. Selanjutnya sejak tahun 2004 hingga 2006, ia menjadi dosen Lembaga Pengajaran Bahasa Arab dan Islam Abu Bakar Ash Shiddiq UMS Surakarta. Saat ini ia mendedikasikan dirinya di dunia dakwah dan pendidikan lewat karya-karyanya dan pesantren Karya dan Wirausaha Basmala Indonesia bersama adik (Ahmad Munif El Shirazy, Ahmad Mujib El Shirazy, Ali El Shirazy) dan temannya.

Kang Abik, demikian novelis ini biasa dipanggil adik-adiknya, semasa di SLTA pernah menulis teatrikal puisi berjudul Dzikir Dajjal sekaligus menyutradarai pementasannya bersama Teater Mbambung di Gedung Seni Wayang Orang Sriwedari Surakarta (1994). Pernah meraih Juara II lomba menulis artikel se-MAN I Surakarta (1994). Pernah menjadi pemenang I dalam lomba baca puisi relijius tingkat SLTA se-Jateng (diadakan oleh panitia Book Fair’94 dan ICMI Orwil Jateng di Semarang, 1994). Pemenang I lomba pidato tingkat remaja se-eks Keresidenan Surakarta (diadakan oleh Jamaah Masjid Nurul Huda, UNS Surakarta, 1994). Ia juga pemenang pertama lomba pidato bahasa Arab se-Jateng dan DIY yang diadakan oleh UMS Surakarta (1994). Meraih Juara I lomba baca puisi Arab tingkat Nasional yang diadakan oleh IMABA UGM Jogjakarta (1994). Pernah mengudara di radio JPI Surakarta selama satu tahun (1994-1995) mengisi acara Syharil Quran Setiap Jumat pagi. Pernah menjadi pemenang terbaik ke-5 dalam lomba KIR tingkat SLTA se-Jateng yang diadakan oleh Kanwil P dan K Jateng (1995) dengan judul tulisan, Analisis Dampak Film Laga Terhadap Kepribadian Remaja. Beberapa penghargaan bergengsi lain berhasil diraihnya antara lain, Pena Award 2005, The Most Favorite Book and Writer 2005 dan IBF Award 2006. Dari novelnya yang berjudul “Ayat-ayat Cinta” dia sudah memperoleh royalti lebih dari 1,5 Milyar, sedangkan dari buku-bukunya yang lain tidak kurang ratusan juta sudah dia kantongi.

Selama di Kairo, ia telah menghasilkan beberapa naskah drama dan menyutradarainya, di antaranya: Wa Islama (1999), Sang Kyai dan Sang Durjana (gubahan atas karya Dr. Yusuf Qardhawi yang berjudul ‘Alim Wa Thaghiyyah, 2000), Darah Syuhada (2000). Tulisannya berjudul Membaca Insanniyah al Islam dimuat dalam buku Wacana Islam Universal (diterbitkan oleh Kelompok Kajian MISYKATI Kairo, 1998). Berkesempatan menjadi Ketua TIM Kodifikasi dan Editor Antologi Puisi Negeri Seribu Menara Nafas Peradaban (diterbitkan oleh ICMI Orsat Kairo)

Beberapa karya terjemahan yang telah ia hasilkan seperti Ar-Rasul (GIP, 2001), Biografi Umar bin Abdul Aziz (GIP, 2002), Menyucikan Jiwa (GIP, 2005), Rihlah Ilallah (Era Intermedia, 2004), dll. Cerpen-cerpennya dimuat dalam antologi Ketika Duka Tersenyum (FBA, 2001), Merah di Jenin (FBA, 2002), dan Ketika Cinta Menemukanmu (GIP, 2004).

Sebelum pulang ke Indonesia, di tahun 2002, ia diundang Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia selama lima hari (1-5 Oktober) untuk membacakan pusinya dalam momen Kuala Lumpur World Poetry Reading ke-9, bersama penyair-penyair negara lain. Puisinya dimuat dalam Antologi Puisi Dunia PPDKL (2002) dan Majalah Dewan Sastera (2002) yang diterbitkan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia dalam dua bahasa, Inggris dan Melayu. Bersama penyair negara lain, puisi kang Abik juga dimuat kembali dalam Imbauan PPDKL (1986-2002) yang diterbitkan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia (2004).

  1. B. HUBUNGAN PENULIS DENGAN KARYA

Terdapat hubungan erat dan tak dapat terpisahkan antara penulis dan latar belakang sosialnya. Terdapat enam faktor yang menentukan latar belakang sosial penulis, yaitu 1) asal sosial, membicarakan latar belakang seseorang sebelum menjadi penulis; 2) kelas sosial, diartikan secara lebih luas dan menyangkut status, seperti orang kampung dan orang kota; 3) seks atau jenis kelamin; 4) umur; 5) pendidikan, oleh Bradbury dan Wilson dihubungkan dengan kelas sosial; dan 6) pekerjaan, memposisikan menulis sebagai profesi utama atau sampingan.

Karya sastra dilihat sebagai dokumen sosiobudaya yang mencatat kenyataan sosiobudaya suatu masyarakat pada masa tertentu. Kenyataan tersebut bisa jadi merupakan hal ideal atau yang diharapkan terjadi menurut pendapat penulis. Hal ini dengan melakukan interpretasi atas realita menjadi sebuah ide yang tendensius. Interpretasi dilakukan dengan membawa realita atau cerita sesuai dengan ideologi tertentu. Penciptaan realita dalam karya sastra ditentukan oleh pikiran penulisnya.

Karya sastra adalah refleksi penulis, keadaan penulis selalu ditandakan dengan hasil karyanya, dan seorang penulis akan menyuarakan pendapatnya. Kesan tendensius ini akan ditemui juga dalam karya sastra, sehingga tokoh-tokoh di dalamnya merupakan tokoh yang representatif yang mewakili tendensi tertentu. Dengan demikian, sebuah karya sastra bukan merupakan refleksi sosiobudaya, tetapi ada kemungkinan merubah kondisi sosiobudaya. Karya sastra bukan mencatat, tetapi alat untuk merubah sesuatu.

Namun, perlu disadari bahwa unsur-unsur sosiobudaya dipandang sebagai unsur-unsur yang lepas dari kesatuan karya, mendasarkan pada cerita tanpa mempersoalkan struktur karya. Dengan demikian, unsur sosiobudaya diintegrasikan dalam suatu unsur dalam karya sastra yang diambil terlepas dari hubungannya dengan unsur lain. Berarti keberadaannya tidak bias dinafikan.

Hubungan langsung antara unsur suatu karya dengan unsur dalam masyarakat yang bertolak dari konsep karya sastra sebagai refleksi dari realita, dalam batas waktu tertentu. Tapi suatu karya bukan merefleksikan realiti, tetapi membiaskannya (to refract), bahkan mungkin merubahnya sehingga terjadi bentuk yang berlainan. Untuk mengembalikannya ke dalam bentuk asal, diperlukan interpretasi. Interpretasi dilakukan dengan membawa realita atau cerita sesuai dengan ideologi tertentu. Penciptaan realita dalam karya sastra ditentukan oleh pikiran penulisnya. Hal ini disebabkan oleh sifat yang dikhususkan dalam sastra modern yaitu mitos pembebasan, pembebasan dari mitos sebelumnya.

Perlu disadari unsur karya sastra tidak mungkin dihubungkan secara langsung dengan unsur sosiobudaya, perlu adanya interpretasi. Hal ini berarti interpretasi telah meniadakan hubungan langsung antara unsur karya dengan unsur sosiobudaya.

 

  1. C. SINOPSIS

Novel Ayat-ayat Cinta merupakan novel yang menceritakan tentang tokoh utama bernama Fahri sebagai seorang mahasiswa berasal dari Indonesia yang kuliah di Universitas Al- Azhar Mesir. Ia tinggal di apartemen milik keluarga Boutros bersama mahasiswa-mahasiswa asal Indonesia (Rudi dan Saiful). Dalam kehidupan sehari-hari, Fahri selalu berusaha meneladani Rosulullah saw. Hal ini tercermin dari perilakunya di apartemen, mereka selalu salig mengingatkan, saling mendo’akan, tolong menlong. Mereka juga mempunyai tanggung jawab masing-masing. Fahri sebagai tokoh utama juga meneladani rasul dalam hal bertetangga dan berinteraksi dengan lawan jenis. Dalam berinteraksi ia selalu mendasarkan diri pada Al Qur’an dan Al Hadist.

Dakwah adalah aktivitas keseharian Fahri. Baginya, dakwah merupakan pekerjaan utama yang sangat mulia yang bisa dilakukan dimana saja kapan saja. Di ceritakan bagaimana seorang fahri di dalam metro mengingatkan kepada penumpang untuk menghormati tamu dari negara lain (Amerika serikat).

Cerita Fahri dalam novel ini berkaitan dengan aktivitas di kampus, hubungan kepada para perempuan, terhadap Maria sebagai gadis Koptik, Naura (gadis Mesir), Nurul, Aisya (gadis Turki). Fahri juga memiliki aktivitas di luar kampus seperti (Tallaqi, ceramah, penerjemah).

Kehidupan fahri berubah 180 ketika menikah dengan Aisyah seorang muslimah Turki anak orang kaya. Dari pernikahan itu kehidupan Fahri otomatis di kelilingi kekayaan yang melimpah. meskipun demikian, ia tetap rendah hati dan tidak sombong. Sejak membangun rumah tangga dengan Aisyah hidupnya serasa mimpi, ia mempunyai istri cantik solihah lagi kaya. Mereka tinggal di apartemen di kawasan elit Kairo yang juga merupakan tempat tinggal orang-orang penting Mesir.

Ketika Fahri menikah dengan Aisyah itu ternyata membuat kecewa tiga gadis lainnya. Maria sampai sekarat, Nurul hampir patah hati, dan Noura tega menjebloskannya ke penjara dengan tuduhan telah memperkosanya. Keimanan dan keikhlasan Fahri diuji ketika ia harus masuk di dalam penjara oleh gadis Mesir yang ditolongnya. Dalam penjara pun Fahri konsisten menjalankan perintah Allah dengan berpuasa dan sholat lima waktu dan sholat sunnah. Tidak hanya itu ia juga belajar ilmu dari seorang guru besar ekonomi yang di penjara karena kritiknya yang pedas. Namun,setelah bukti-bukti menyatakan bahwa Fahri tidak bersalah, ia pun bebas dari penjara. Setelah Fahri bebas, Maria kembali dirawat ke rumah sakit hingga pada akhirnya meninggal setelah masuk islam dan menikah dengan Fahri.

 

 

BAB III

PEMBAHASAN

Novel Ayat-ayat Cinta penentuan karya yang kuat yaitu unity (kesatuan) dan complexity (keragaman) yang memang layak dimasukkan sebagai karya yang kuat. Hal ini disebabkan karena kesatuan struktur di dalamnya yang tidak netral tetapi memiliki makna. Fenomena ini berhubungan dengan hakikat karya sastera yang dulunya hanya mementingkan pemahaman terhadap cerita, namun sekarang sudah mencakup struktur.

Novel Ayat-ayat Cinta awal cenderung menggunakan kosakata yang kurang familiar dengan bahasa Indonesia. Ini sehubungan dengan hakikat novel Ayat-ayat Cinta yang harus berhubungan tradisi pemakaian bahasa Arab di Mesir. Hal ini masih berhubungan dengan lingkungan masyarakat yang diceritakan dalam novel.

Novel tidak dapat melepaskan diri dari penggunaan kosakata (vocabulary) yang digunakan oleh pemakai bahasa, dalam hal ini pengarang. Ada kecenderungan  menggunakan kata dari bahasa arab atau kata dengan nilai Islami. Walau seperti novel biasanya yang cenderung menggunakan kosakata umum dengan harapan seluruh pembaca dari bisa menikmatinya.

Tepat pukul dua siang aku harus sudah berada di Masjid Abu Bakar Ash-Shidiq yang terletak di Shubra El-Khaima, ujung utara Cairo, untuk talaqqi pada Syaikh Utsman Abdul Fattah. Pada ulama besar ini aku belajar qiraah sab’ah dan ushul tafsir. Beliau adalah murid Syaikh Mahmoud Khushari, ulama legendaris yang mendapat julukan Syaikhul Maqari’ Wal Huffadh Fi Mashr atau Guru Besarnya Para Pembaca dan Penghafal Al-Qur’an di Mesir.

(Shirazy, 2004: 2-3)

Karya sastra merupakan sarana untuk menyampaikan tujuan tertentu kepada pembaca. Dalam hal ini tujuan tersebut dapat berupa tujuan politik, pendidikan, moral, agama, maupun tujuan yang lain.  Pemanfaatan karya ini berusaha memaksimalkan keberhasilannya dalam mencapai tujuan tertentu bagi pembacanya. Hal ini terlihat dari fungsinya untuk memberikan pendidikan (ajaran) moral, agama, maupun fungsi sosial lainnya. Semakin banyak nilai pendidikan moral  dan atau agama yang terdapat dalam karya sastra dan berguna bagi pembacanya, makin tinggi nilai karya sastra tersebut. Karya satra (novel) diharapkan menjadi sarana yang cukup efektif untuk menyampaikan  tujuan-tujuan tertentu pengarang kepada pembaca.

Dalam novel ini terdapat nilai-nilai moral, dan nilai-nilai religius. Pengarang menyampikan pesan moral cukup elegan, misalnya tampak pada judul novel ini mengandung kata “cinta”, akan tidak lengkap rasanya jika kita tidak membahas kesan yang tertangkap bahwa novel ini merupakan novel romantis. Memang, novel ini juga novel asmara.

Topik yang dominan memang persoalan cinta yang diikuti oleh kehidupan rumah tangga, tetapi kedatangan ‘bencana’ pada tengah cerita menyebabkan adanya perkembangan topik yang berbeda berhubungan dengan ‘bencana’ dan kecenderungan untuk hanya melukiskan. Akibatnya ada perubahan dari lukisan ‘cinta dengan ketinggian moral’ kepada ‘pelukisan penyelesaian masalah’. Ada dimensi lain dalam perkembangan topik novel Ayat-ayat Cinta. Kehidupan Fahri diwarnai dengan kisah hubungan lelaki dan perempuan. Perasaan Fahri diceritakan dengan baik ketika ia harus menjadi rebutan tiga orang perempuan.

Pusat cerita berhubungan dengan tokoh dalam suatu novel, dalam hal ini Fahri. Fahri menjadi tokoh dominan dalam novel Ayat-ayat Cinta sehingga novel Ayat-ayat Cinta merupakan novel yang berpusat pada satu tokoh. Hal ini mungkin dimaksudkan penulis ingin membentuk tokoh rekaan yang perfeksionis untuk bisa diteladani secara langsung.

Perbedaan dari tokoh cerita tersebut dapat dirumuskan dengan kearifan Fahri sebagai tokoh yang lebih menyerahkan diri pada Allah dengan perlawanan yang meyakinkan. Dia menjadi ‘pelaku’ aktif yang tidak membiarkan dirinya menjadi ‘korban’.

Novel Ayat-ayat Cinta ketika membicarakan seks tidak dinyatakan sebagai faktor yang tabu dalam penceritaan karya Islami. Hal ini menjadi perilaku rumah tangga yang semestinya dan ndianggap sebagai penyebab timbulnya cinta dan kasih sayang. Keadaan ini dengan sendirinya menyebabkan dan disebabkan oleh perubahan sistem moral.

Pada bagian cerita bulan madu Fahri dan Aisha jelas sekali digambarkan terjadinya adegan percintaan yang selalu merupakan bagian penting dari disebutnya novel asmara. Di sinilah kelebihan lain novel ini yang menceritakan hubungan suami-istri namun tidak terjatuh ke dalam kevulgaran. Hal ini sangat berbeda dengan novel “Saman” miliknya Ayu Utami yang sepertinya seks malah menjadi komoditas tersendiri.

“…Dengan suara pelan kubalas puisinya:

alangkah manis bidadariku ini

bukan main elok pesonanya

matanya berbinar-binar

alangkah indahnya

bibirnya,

mawar merekah di taman surga

Kami lalu memainkan melodi cinta paling indah dalam sejarah percintaan umat manusia, dengan mengharap pahala jihad fi sabillillah dan mengharap lahirnya generasi pilihan yang bertasbih dan mengagungkan asma Allah Azza wa Jalla di mana saja kelak mereka berada. …”

Penulis menyadari bahwa novel tidak dapat dilepaskan dari persoalan keluarga. Novel awal berpusat pada hubungan seseorang dengan keluarga asalnya dan yang berhubungan dengan ikatan perkawinan. Hubungan dengan keluarga menjadi penting sekali. Hal ini sebagai implementasi hubungan percintaan. Keluarga merupakan bentukan untuk  kebahagiaan yang tidak akan hancur. Yang terpenting dalam hubungan asmara adalah relasi kemanusiaan yang didasarkan aturan Islam dan bukan kebendaan  atau seks.

Dalam Novel Ayat-ayat cinta, Habiburrahman El Shirazy sebagai seorang pengarang ingin mengajak umat Muslim pada kebenaran dengan bahasa yang mudah diterima. Aspirasi tersebut diekspresikan dalam novel Ayat-ayat Cinta melalui tema cinta.  Penulis novel ini menyampaikan pesan keharmonisan hidup sebagai umat manusia yang beradab di muka bumi dengan peristiwa ketika Maria, seorang gadis beragama kristen koptik yang bertetangga baik dengan Fahri dan teman-temannya menempuh studi di Mesir.

“… Maria berbuat begitu atas nama keluarganya atas petunjuk ayahnya yang baik hati itu. Dan karena kepala keluarga di rumah ini adalah aku, maka tiap kali memberi makanan dan minuman atau menyampaikan sesuatu atas nama keluarganya dan aku dianggap representasi kalian semua. Jadi ini bukan hanya interaksi dua person saja, tapi dua keluarga. Bahkan lebih besar dari itu, dua bangsa dan dua penganut keyakinan yang berbeda. …”

Ia memandang bahwa hubungan cinta dengan  lawan jenis itu harus berdasarkan  kepada hukum agama yang berlaku, sehingga tidak seperti apa yang sekarang terjadi terutama di kalangan pemuda yang sedang dirundung asmara. Menurutnya menjalin hubungan cinta kasih harus melalui prosedur yang benar, yakni kewajiban untuk menikah antara kedua belah pihak yang sedang jatuh cinta.

Selain itu Habiburrahman El Shirazy juga mengajak kepada pembaca untuk saling menghormati kepada tamu-tamu asing yang berkunjung kesuatu Negara. Hal ini dapat di lihat ketika tokoh Fahri sedang menasehati penduduk mesir di sebuah metro untuk tetap menghormati tamu asing, sebagaimana ajaran rasulullah walau orang asing itu merupakan orang kafir sekalipun. Hal ini terlihat dalam kutipan sebagai berikut.

“… Ahlu dzimmah adalah senua orang non muslim yang berada di dalam negara kaum muslimin secara baik-baik, tidak illegal dengan membayar jizyah dan mentaati peraturan yang ada di dalam negara itu. Hak mereka sama dengan hak kaum muslimin. Darah dan kehormatan dan kehormatan mereka sama dengan darah dan kehormatan kaum muslimin. Mereka harus dijaga dan dilindungi. Tidak boleh disakiti sedikit pun. Dan kalian pasti tahu, tiga turis Amerika itu masuk ke Mesir secara resmi. Mereka membayar visa. Kalau tidak percaya silakan lihat saja paspornya. Maka mereka hukumnya sama dengan ahlu dzimmah. Darah dan kehormatan mereka harus kita lindungi. Itu yang diaajrkan Rasulullah Saw. …” (Shirazy, 2004: 50)

Jadi, melalui tokoh Fahri ini ini pengarang juga berpesan supaya umat islam senantiasa menjaga hubungan baik antara hubungan manusia dengan Allah (hablumminallah) dan hubungan manusia kepada sesama manusia (hablumminannas).

Dalam memandang kehidupan, dibutuhkan optimisme dan perencanaan yang matang. Seperti yang dituliskan oleh penulis pada halaman 144 yang tertulis seperti berikut.

“…Peta masa depan itu saya buat terus terang saja. Berangkat dari semangat spiritual ayat suci Al Quran yang saya yakini. Dalam Ar-Ra’ad ayat sebelas Allah berfirman, Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah nasibnya. Jadi nasib saya, masa depan saya, mau jadi apa saya, sayalah yang menentukan. Sukses atau gagalnya saya, sayalah yang menciptakan. Saya sendirilah yang mengarsiteki apa yang akan saya raih dalam hidup ini.”

Sebagai novel yang kuat tentunya menyuguhkan latar sosiobudaya yang kuat pula. Novel Ayat-ayat Cinta adalah novel yang dihasilkan untuk penulisnya sendiri. Dengan menggunakan novel sebagai amanat islamisasi, yang sengaja memperindah realita untuk membentuk suatu yang ideal, maka novel akan selalu mempertentangkan realita dan impian.

Struktur penceritaan novel Ayat-ayat Cinta mengedepankan ‘kepasrahan’ usuran jodoh, rizki, dan maut kepada Allah. Adanya struktur ini menunjukkan adanya keinginan untuk memberikan bacaan kepada rakyat dan mendidik rakyat ke arah pemikiran yang jelas. Karya sastra akhirnya sebagai alat untuk menyampaikan amanat.

Novel Ayat-ayat Cinta memang lebih mementingkan penyampaian amanat, dan melihat persoalan secara sederhana, sehingga tidak memerlukan diinterpretasi. Tetapi novel Ayat-ayat Cinta berani menyuarakan pikiran tertentu dari suatu pendapat, tidak hanya menyuarakan kembali pikiran yang umum. Novel  ini mengabaikan stile individu tidak sekedar mengikuti stile sosial yang pasaran. Penulisnya pun menganggap dirinya pujangga yang memiliki kewajiban moral untuk membimbing pembacanya. Selain itu, novel Ayat-ayat Cinta juga  tidak meninggalkan untuk mementingkan aspek nilai kesastraan karya, dan penulisnya tidak merasa berkewajiban membimbing pembacanya. Pemaparan sosiobudaya yang ‘kearaban-Islam’ dapat diinterpretasikan dari perkembangan sejarah Arabisasi-Islamisasi.

 

BAB IV

PENUTUP

  1. A. KESIMPULAN

Dari pemaparan dalam pembahasan, terdapat hubungan antara latar belakang sosial pengarang dengan karyanya. Pengarang sebagai alumni Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir memposisikan dirinya sebagai dai. Tapi dengan novel Ayat-ayat Cinta pengarang berhasil menjadi novelis. Selama meramu  novel  Ayat-ayat Cinta dengan menonjolnya certia percintaan dengan segala pernak-perniknya pengarang berhasil menjadi penyair.

Novel Ayat-ayat Cinta karya sebagai penyalur pendapat pengarang berdasarkan latar belakangnya Karya-karya fiksinya dinilai dapat membangun jiwa dan menumbuhkan semangat berprestasi pembaca. Novel sebagai karya sastra inilah yang berhasil memadukan dakwah, tema cinta dan latar belakang budaya suatu bangsa. Novel ini sangat menyentuh dengan romatisme yang sangat terasa namun menuntun pembaca untuk tidak cengeng dalam bercinta. Kodrat keberadaan cinta dalam diri setiap insan itu keniscayaan, tetapi bagaimana mengolah dan mengarahkannya supaya sesuai dengan yang digariskan. Novel ini juga menggugah para pelaku percintaan untuk terus tegar menghadapi cobaan.

 

  1. B. SARAN

Penelitian ini masih merupakan awal dari penelitian-penelitian selanjutnya. Maka dari itu dibutuhkan banyak penelitian lagi untuk mengkaji lebih dalam tentang sosiologi sastra.


DAFTAR PUSTAKA

Wiyatmi. 2006. Pengantar Kajian Sastra. Yogyakarta: Penerbit Pustaka.

Shirazy, Habiburrahman El. 2004. Ayat-ayat Cinta. Jakarta: Penerbit Republika.

http://id.wikipedia.org/wiki/Habiburrahman_El_Shirazy