Digunakan untuk memenuhi tugas mata kuliah Stilistik dengan dosen pengampu Prof. Dr. Burhan Nurgiyantoro.

Oleh

Hamdan Nugroho

07201241024

PROGRAM STUDI

PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

FAKULTAS BAHASA DAN SENI

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

2010


Diambil dari http://nehemiap.blogspot.com/2010/05/stilistika.html

STILISTIKA

Nehemia Purnanto

Stilistika berasal dari Bahasa Inggris yaitu “Style” yang berarti gaya dan dari bahasa serapan “linguistiK” yang berarti tata bahasa. Stilistika menurut kamus Bahasa Indonesia yaitu ilmu kebahasaan yang mempelajari gaya bahasa. Sedangkan menurut C. Bally, Jakobson, Leech, Widdowson, Levin, Ching, Chatman, C Dalan, dan lain-lain menentukan stilistika sebagai suatu deskripsi linguistik dari bahasa yang digunakan dalam teks sastra. Bagi Leech, stilistik adalah simple defind as the (linguistiK) study of style.

Wawasan demikian sejalan dengan pernyataan Cummings dan Simmons bahwa studi bahasa dalam teks sastra merupakan…branch of linguistiK called stylistic. Dalam konteks yang lebih luas, bahkan Jakobson beranggapan bahwa poetics (puitika) sebagai teori tentang sistem dan kaidah teks sastra sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari LinguistiK. Bagi jakobson Poetics deals with problem of verbal structure, just as he analysis of painting is concered with pictorial structure since linguistiKs is the global science of verbal structur, poetics may be regarded as an integral of linguistiK (Amminuddin, 1995:21).

Berbeda dengan wawasan di atas, Chvatik mengemukakan Stilistika sebagai kajian yang menyikapi bahasa dalam teks sastra sebagai kode estetik dengan kajian stilistik yang menyikapi bahasa dalam teks sastra sebagaimana bahasa menjadi objek kajian linguistik (Aminuddin, 1995:22). Sedangkan menurut Rene Wellek dan Austin Warren, Stilistika perhatian utamanya adalah kontras sistem bahasa pada zamannya (Wellek dan Warren, 1990:221).

Pada mulanya, stilistika memang lebih terbatas pada persoalan bahasa dalam karya sastra. Namun dalam perkembangannya, pengertian gaya juga dilihat dalam hubungannya di luar sastra. Maka dibedakan antara gaya sastra dan gaya nonsastra. Bernand Asmuth dan Luise Berg-Ehlers menamakan gaya bahasa sastra dan gaya bahasa nonsastra ke dalam ‘gaya fungsional’, yaitu berhubungan dengan fungsi tertentu dan bersifat sosiologis. Selanjutnya dikemukakan pula bahwa ciri gaya fungsional berhubungan dengan pemakaian bahasa, misalnya gaya bahasa pergaulan resmi berfungsi melaksanakan hubungan resmi antara pegawai pemerintah dan rakyat; gaya bahasa ilmu berfungsi menyampaikan kebenaran ilmu dan hukumnya dengan pembuktian logis dan objektif; gaya bahasa surat kabar berfungsi memberikan informasi atau menjelaskan sehingga orang tahu dengan jelas tentang peristiwa yang dilaporkan; gaya bahasa sehari-hari digunakan dalam pergaulan santai yang alamiah; gaya bahasa sastra berfungsi menyampaikan pikiran melalui bahasa yang bergaya.

Bertolak dari berbagai pengertian di atas, peneliti ingin memperluas kajian stilistika yang tidak hanya pada ranah dunia sastra, tetapi juga pada ranah nonsastra. Prof. Dr. Sudiro Satoto (dalam perkuliahan beliau) menyatakan pula bahwa Stilistika merupakan problematik. Bahwa Stilistika merupakan ilmu tentang gaya, yaitu gaya penampilan, gaya penyajian, gaya performence, dan sebagainya termasuk juga gaya bahasa di dalamnya.

Bahasa merupakan sebuah media penting penyampai informasi yang digunakan manusia. Hal itulah yang menjadikan bahasa sebagai bagian hidup di dalam bermasyarakat. Penggunaan bahasa sifatnya arbitrer, maksudnya bebas dalam menggunakannya yang terpenting orang lain dapat menangkap informasi yang disampaikan (adanya kesepakatan). Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa bahasa ialah suatu hal yang memiliki peranan penting dalam kelangsungan hidup manusia. Lewat bahasa, informasi untuk orang lain disampaikan. Maka dari itu dibutuhkan suatu penggayaan didalamnya agar tercipta suatu estetika di dalam bahasa itu sendiri. Kemudahan pemahaman akan tercapai jika dalam pemahaman bahasa yang digunakan untuk menyampaikan informasi tersebut telah mengalami keragaman didalamnya.

Menurut Aminuddin (2004:72) menyatakan bahwa istilah gaya mengandung pengertian cara seorang pengarang menyampaikan gagasannya dengan mengunakan media bahasa yang indah yang harmonis serta mampu menuansakan makna dan suasana yang menyentuh daya inteletual dan emosi pembaca. Pernyataan tersebut maksudnya ialah penggayaan bahasa merupakan suatu ekspresi seorang pengarang dalam mengeksploitasi bahasa sebagai bahan pembangun utama karyanya agar memiliki keindahan dan sarat nuansa makna yan harmonis sehingga enak saat dibaca. Sedang menurut Stanton (2007:61), gaya ialah cara pengarang dalam menggunakan bahasa, maksudnya yaitu gaya pengarang dalam mengolah bahasa yang digunakan untuk membangun karyanya. Selanjutnya stilistika menurut Sudjiman (1993:13) ialah style, yaitu cara yang digunakan seorang pembicara atau penulis untuk menyatakan maksudnya dengan menggunakan bahasa sebagai sarana. Penjelasan tersebut dapat diartikan bahwa stilistika ialah suatu cara yang digunakan seorng pembicara atau penulis untuk mengungkapkan gagasannya dengan bahasa yang penuh ekspresi. Ketiga pendapa mengenai stilistika tersebut dapat disimpulkan bahwa stilistika ialah sutu cara yang digunakan pengarang untuk mengungkapkan idenya dengan bahasa yang indah sebagai medianya. Gaya bahasa sesungguhnya terdapat dalam segala ragam bahasa: ragam lisan dan ragam tulis, ragam nonsastra dan ragam sastra, karena gaya bahasa ialah cara menggunakan bahasa dalam konteks tertentu oleh orang tertentu dan untuk maksud tertentu (Sobur, 2004:82). Maksud dari pernyataan itu ialah segala ragam bahasa pasti didalamnya tedapat unsur gaya bahasa. Berdasarkan cakupannya gaya bahasa memliki bagian yaitu diksi (pilihan kata), struktur kalimat, majas dan citraan, pola rima, dan matra yang digunakan seorang sastrawan atau yang terdapat dalamsebuah karya sastra (Sudjiman, 1993:13-14).

Pilihan kata atau diksi menurut Keraf (2006:22-23), bukan saja dipergunakan untuk menyatakan kata-kata mana yang dipakai untuk mengungkapkan ide atau gagasan, tetapi juga meliputi persoalan fraseologi, gaya bahasa dan ungkapan. Maksudnya ialah pilihan kata atau diksi bukan hanya suatu kata-kata yang digunakan pengarang untuk menyatakan gagasannya, tetapi di dalam itu semua lebih menyangkut pada fraseologi, gaya bahasa yang digunakan serta ungkapan. Tidak banyak orang yang menyadari bahwa diksi atau plihan kata sesungguhnya sangat menentukan dalam penyampaian makna (Sudjiman, 1993:22). Maksudnya keterkaitan antara makna dan pilihan kata atau diksi sangat erat. Jika pilihan kata yang digunakn tidak tepat maka makna yang ingin disampaikan akan sulit diterima karena adanya salah persepsi antara bacaan dan pembacanya. Selanjutnya sudjiman menuturkan kata, rangkaian kata dan pasangan kata yang dipilih dengan saksama dapat menimbulkan efek pada diri pembaca sesuai dengan apa yang dikehendaki pengarang. Tujuan dari adanya pilihan kata ini untuk membuat bahasa yang digunakan menjadi indah, sebab bahasa ialah sebuah tanda yang digunakan manuia untuk menyampaikan maksudnya. Pilihan kata yang dimaksud tentunya bukan hanya mencari kemudian memasangkan kata yang puitis, tetapi pilihan kata itu meliputi proses pencarian, penyelesaian dan pemanfatan kata-kata tertentu yang dapat menimbulkan nlai estetika atau keindahan dalam arti luasdan sekaligus sarat makna serta efisen dan mampu merefleksi tema yang dijabarkan.

Keraf (2006:24), memberikan tiga simpulan berkenaan tentang diksi atau pilihan kata. Pertama, diksi atau pilihan kata mencakup pengertian kata-kata mana yang dipakai untuk menyampaikn suatu gagasan, bagaimana membentuk pengelompokan kata-kata yang tepat atau menggunakan ungkapan-ungkapan yang tepat dan gaya mana yang paling baik sigunakan dalam suatu situasi. Kedua, pilihan kata atau diksi ialah kemampuan membedakan secara tepa nuansa-nuansa makna dari gasan yang ingin dsampaikan, dan kemampuan untuk menemukan bentuk yang ssuai (cocok) dengan situasi dan nilai rasa yang dimiliki kelompok masyarakat pendengar. Ketiga, pilihan kata yang tepat dan sesuai hanya dimungkinkan oleh penguasaan sejumlah besar kosakata atau perbendaharaan kata bahasa itu. Simpulan yang dinyatakan Keraf tersebut telah mewaili semua tentang seluk beluk pilhan kata atau diksi.

Kriteria pemakaian diksi atau pilihan kata pada dasarnya kata ialah suatu tanda untuk menyatakan atau mengungkapkan gagasa, konsep, makna. Konsep itu berupa benda, gerak, sikap, keadaan, citarasa, perasaan dan banyak lagi (Dewabrata, 155-156). Maksudnya kata merupakan media penyampaian maksud. Dalam diksi atau pilihan kata, pemakaian kata untuk dirangkai menjadi sebuah kalimat tidak memiliki aturan khusus, terkecuali jika membuat kalimat gramatikal yang merupakan aturan paten dalam membuat kalimat. Tujuan dari diksi ialah memperindah dan memperjelas kalimat yang digunakan sebagai media untuk menyampaikan informasi. Ketepatan dan kesesuaian diksi atau pilihan kata

alimat bisa amat pendek terdiri dari sebuah kata saja, teapi juga bisa amat panjang terdiri dari beratus-ratus kata. Kalimat pendek biasanya mudah dipahami. Makin panjang sebuah kalimat, maka makin banyak umpukan konsepnya, tambah susah dipahami pesan utuhnya yang terkandung didalanya. Pernyataan tersebut dapat dijabarkan bahwa kalimat yang panjan akan lebih sulit dipahami maknanya dari pada kalimat yang pendek. Jika pilihan kata yang digunakan tepat maka kalimat yang dihasilkan akan pendek dan tentunya juga makna atau maksud yang disampaikan akan mudah dipahami. Pemakaian kata yang tidak tepat seringkali menimbulkan distorsi pesan.

Ketepatan pilihan kata menurut Keraf (2006:87), ialah mempersoalkan kesanggupan sebuah kata untuk menimbulkan gagasan-gagasan yang tepat pada imajinasi pembaca atau pendengar, seperti apa yang dirasakan oleh penulis atau pembicara. Maksudnya ialah, dalam pemilihan kata yang akan digunakan sangat menanyakan apakah nanti kata yang digunakan tersebut dapat menimbukan mana yang sesuai dengan agasan yang ingin disampaikan. Keraf (2006:88-87), hal-hal yang harus diperhatikan agar bisa mencapai ketepatan pilihan kata yang akan digunakan, anara lain: 1) Membedakan secara cermat denotasi dan konotasi, masudnya kata mana yang ingin digunakan untuk mencapai tingkat keemosionalan sesuai dengan gagasan. Jika menginginkan pembaca menebak-nebak makna maka gunakan kata yang bermana konotasi, dan begitu juga sebaliknya. 2) Membedakan dengan cermat kata-kata yang hampir bersinonim, maksudnya memilih kata-kata dengan tepat mana yang memiliki makna hampir sama, dan tentunya sesuai dengan gagasan yang dimaksud. 3) Membedakan kata-kata yang mirip dengan ejaannya. Artinya penulis harus bisa membedakan kata-kata yang dalam ejaannya ampir sama sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman makna. 4) Menghindari kata-kata ciptaan sendiri, maksudnya jangan menggunakan kata-kata ciptaan sendiri karena kata-kata tersebut tidak ada yang mengetahi maknanya, terkecuali dalam kalangan sendiri yang telah mempunyai kesepakatan tentang bahasa tersebut. 5) Waspada terhadap penggunaan akhiran asing, maksudnya supaya tidak terjadi interferensi terhadap bahasa Indonesia. 6) Kata kerja yang menggunakan kata depan harus digunakan secara idiomatis. 7) Membedakan secara cermat kata umum dan kata khusus, maksudnya supaya pembaca tidak memikir dua kali dalam memahami makna. Kata khusus lebih tepat mengambarkan sesuatu daripada kata umum. 8) Mempergunakan kata-kata indria yang menunjukkan persepsi yang khusus. 9) Memperhatikan perubahan makna yang terjadi pada kata-kata yang sudah dikenal. 10) Memperhatikan kelangsungan pilihan kata.

Suatu bahasa akan lebih indah dan menarik jika bahasa tersebut telah mengalami proses penggayaan didalamnya. Penggayaan bahasa yang dimaksud ialah dimana bahasa tersebut telah tercampur dengan unsur stilistika didalamnya khususnya majas atau gaya bahasa. Menurut Keraf (2006:113), majas atau gaya bahasa ialah cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa supaya bahasa terlihat imajinatif. Maksudnya ialah majas merupakan salah satu cara pengarang dalam mengeksploitasi bahsa sehingga bahasa yang digunakan sebagai bahan pembangun karyanya tersebt menjadi menarik dan terlihat estetika kebahasaannya. Sedang menurut Aminuddin (2004:76-77), gaya bahasa ialah cara seorang pengarang menyampaikan gagasannya lewat media bahasa sehingga mewujudkan bahas yang indah dan harmonis. Maksudnya dengan penggunaan majas dalam bahas ayang digunakan akan memperindah bahasa tersebut. Kedua pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa majas merupakan salah satu cara yang digunakan pengarang untuk memperindah bahasa yang digunakan untuk membangun karyanya.

Sumardjo dan Saini K.M (1986:92), gaya ialah pribadi pengarang itu sendiri. Maksudnya bentuk gaya bahasa yang digunakan pengarang merupakan bentuk asli jati dirinya, bagaiman sifat pengarang tersebut dapat diketahui saat dia mengolah suatu bahasa. Keterkaian pengarang dengan gaya bahasa memang sangat erat, karena kepribadian pengarang akan mempunyai pengaruh besar tehadap bentuk gaya bahasa yang akan digunakan nanti. Ada dua aliran yang terkenal berdasarkan teori gaya tersebut (Keraf, 2006:112). 1) Aliran Platonik, menganggap style sebagai kualitas suatu ungkapan; menurut mereka ada ungkapan yang memiliki style, ada juga yang tidak memiliki style. 2) Aliran Aristoteles, menganggap bahwa gaya ialah suatu kualitas yang inhern, yang ada dalam tiap ungkapan. Dengan demikian, aliran Plato mengatakan bahwa ada karya yang memiliki gaya dan ada karya yang tidak memiliki gaya. Sebaiknya, aliran Aristoteles mengatakan bahwa semua karya memiliki gaya, tetapi ada karya yang memiliki gaya yang tinggi ada yang rendah, ada yang memiliki gaya yang kuat dan gaya yang lemah.

Jenis-jenis Gaya Bahasa Keraf (2006:115) menjeniskan gaya bahasa berdasarkan dari berbagai sudut pandang.

1. Gaya bahasa berdasarkan pilihan kata berdasarkan pilihan kata, gaya bahasa mempersoalkan kata mana yang paling tepat dan sesuai untuk posisi-posisi tertentu dalam kalimat, serta tepat tidaknya penggunaan kata-kata dilihat dari lapisan pemakaian bahasa dalam masyarakat. Berdasarkan pilihan kata gaya bahasa dibagi menjadi: 1) Gaya bahasa resmi, ialah gaya dalam bentuknya yang lengkap, gaya yang digunakan dalam kesempatan-kesempatan resmi, gaya yang dipergunakan oleh mereka yang yang diharapkan mempergunakannya dengan baik dan terpelihara. 2) Gaya bahasa tak resmi, ialah yang digunakan dalam cakupan nuansa tidak resmi, dalam cakupan bahasa nonformal. 3) Gaya bahasa percakapan, ialah gaya bahasa yang digunakan dalam kata-kata populer dan percakapan.

2. Gaya bahasa berdasarkan nadanya bahasa berdasarkan nada didasarkan pada sugesti yang dipancarkan dari rangkaian kata-kata yang terdapat dalam sebuah wacana. 1) Gaya sederhana ialah gaya yang biasanya cocok untuk memberi instruksi, perintah, pelajaran, perkuliahan dan sejenisnya. 2) Gaya mulia dan bertenaga ialah gaya yang penuh dengan vitalitas dan enersi dan biasanya digunakan untuk menggerakkan sesuatu. 3) Gaya menengah ialah gaya yang diarahkan kepada usaha untuk menimbulkan suasana senang dan damai.

3. Gaya bahasa berdasarkan struktur kalimat Struktur sebuah kalimat dapat dijadikan landasan untuk meciptakan gaya bahasa. Yang dimaksud dengan struktur kalimat di sini ialah kalimat bagaimana tempat sebuah unsur kalimat yang dipentingkan dalam kalimat tersebut.

Ulasan

Stilistika berasal dari Bahasa Inggris yaitu “Style” yang berarti gaya dan dari bahasa serapan “linguistiK” yang berarti tata bahasa. Pada mulanya, stilistika memang lebih terbatas pada persoalan bahasa dalam karya sastra. Namun dalam perkembangannya, pengertian gaya juga dilihat dalam hubungannya di luar sastra. bahasa ialah suatu hal yang memiliki peranan penting dalam kelangsungan hidup manusia. Lewat bahasa, informasi untuk orang lain disampaikan. Maka dari itu dibutuhkan suatu penggayaan didalamnya agar tercipta suatu estetika di dalam bahasa itu sendiri. Kemudahan pemahaman akan tercapai jika dalam pemahaman bahasa yang digunakan untuk menyampaikan informasi tersebut telah mengalami keragaman didalamnya.

Segala ragam bahasa pasti didalamnya tedapat unsur gaya bahasa. Berdasarkan cakupannya gaya bahasa memliki bagian yaitu diksi (pilihan kata), struktur kalimat, majas dan citraan, pola rima, dan matra yang digunakan seorang sastrawan atau yang terdapat dalamsebuah karya sastra.

Gaya bahasa banyak memanfaatkan diksi atau pilihan kata untuk mencapai keindahannya. Pemakaian kata untuk dirangkai menjadi sebuah kalimat tidak memiliki aturan khusus, terkecuali jika membuat kalimat gramatikal yang merupakan aturan paten dalam membuat kalimat. Tujuan dari diksi ialah memperindah dan memperjelas kalimat yang digunakan sebagai media untuk menyampaikan informasi. Ketepatan dan kesesuaian diksi atau pilihan kata.

http://en.wikipedia.org/wiki/Stylistics_%28literature%29

Stylistics (literature)

Stylistics is the study and interpretation of texts from a linguistic perspective. As a discipline it links literary criticism and linguistics, but has no autonomous domain of its own. The preferred object of stylistic studies is literature, but not exlucively “high literature” but also other forms of written texts such as text from the domains of advertising, pop culture, politics or religion

Stylistics also attempts to establish principles capable of explaining the particular choices made by individuals and social groups in their use of language, such as socialisation, the production and reception of meaning, critical discourse analysis and literary criticism.

Other features of stylistics include the use of dialogue, including regional accents and people’s dialects, descriptive language, the use of grammar, such as the active voice or passive voice, the distribution of sentence lengths, the use of particular language registers, etc. In addition, stylistics is a distinctive term that may be used to determine the connections between the form and effects within a particular variety of language. Therefore, stylistics looks at what is ‘going on’ within the language; what the linguistic associations are that the style of language reveals.

Overview

The situation in which a type of language is found can usually be seen as appropriate or inappropriate to the style of language used. A personal love letter would probably not be a suitable location for the language of this article. However, within the language of a romantic correspondence there may be a relationship between the letter’s style and its context. It may be the author’s intention to include a particular word, phrase or sentence that not only conveys their sentiments of affection, but also reflects the unique environment of a lover’s romantic composition. Even so, by using so-called conventional and seemingly appropriate language within a specific context (apparently fitting words that correspond to the situation in which they appear) there exists the possibility that this language may lack exact meaning and fail to accurately convey the intended message from author to reader, thereby rendering such language obsolete precisely because of its conventionality. In addition, any writer wishing to convey their opinion in a variety of language that they feel is proper to its context could find themselves unwittingly conforming to a particular style, which then overshadows the content of their writing.

Ulasan

Stilistik (sastra)

Stilistik adalah studi dan interpretasi teks dari perspektif linguistik. Sebagai suatu disiplin itu cabang kritik sastra dan linguistik, namun tidak memiliki karakterisitk sendiri. Objek yang dirujuk stilistik adalah sastra, tetapi tidak khusus “sastra tinggi”, tetapi juga bentuk lain dari teks tertulis seperti teks dari domain iklan, budaya pop, politik atau agama.

Stilistik juga berusaha untuk menetapkan prinsip-prinsip yang mampu menjelaskan pilihan tertentu yang dibuat oleh individu dan kelompok sosial dalam penggunaan bahasa, seperti sosialisasi, produksi dan penerimaan makna, analisis wacana kritis dan kritik sastra.

Fitur lain dari stilistik termasuk penggunaan dialog, termasuk aksen regional dan dialek masyarakat, bahasa deskriptif, penggunaan tata bahasa, seperti suara aktif atau suara pasif, distribusi panjang kalimat, penggunaan register bahasa tertentu, dll. Selain itu, stilistik adalah istilah khas yang dapat digunakan untuk menentukan hubungan antara bentuk dan efek tertentu dalam berbagai bahasa. Oleh karena itu, stilistik terlihat pada apa yang ‘terjadi’ dalam bahasa, dimana asosiasi linguistik adalah bahwa stilistik bahasa yang mengungkapkan.

Ikhtisar
Situasi di mana suatu jenis bahasa yang ditemukan biasanya dapat dilihat cocok atau tidak dengan stilistik bahasa yang digunakan. Sebuah surat cinta pribadi mungkin tidak akan menjadi tempat yang cocok untuk bahasa artikel ini. Namun, dalam bahasa korespondensi romantis mungkin ada hubungan antara stilistik huruf dan konteksnya. Ini mungkin maksud penulis untuk menyertakan kata frase, atau kalimat tertentu yang tidak hanya menyampaikan perasaan kasih sayang mereka, tetapi juga menunjukkan lingkungan yang spesial komposisi romantis seorang kekasih. Meskipun demikian, dengan menggunakan bahasa konvensional dan tampaknya tepat apa yang disebut dalam konteks tertentu (kata-kata ternyata pas yang sesuai dengan situasi dimana mereka muncul) terdapat kemungkinan bahwa bahasa ini mungkin kurang tepat makna dan gagal menyampaikan pesan dimaksud dari penulis kepada pembaca, sehingga bahasa seperti usang justru karena konvensionalitasnya. Selain itu, setiap penulis ingin menyampaikan pendapat mereka dalam berbagai bahasa yang mereka merasa tepat konteks sehingga bisa menemukan diri mereka tanpa disadari sesuai dengan stilistik tertentu, yang kemudian membayangi isi tulisan mereka.

http://www.textetc.com/criticism/stylistics.html

Overview

Stylistics is a valuable if long-winded approach to criticism, and compels attention to the poem’s details. Two of the three simple exercises performed here show that the poem is deficient in structure, and needs to be radically recast. The third sheds light on its content.

Introduction

Stylistics applies linguistics to literature in the hope of arriving at analyses which are more broadly based, rigorous and objective. {1} The pioneers were the Prague and Russian schools, but their approaches have been appropriated and extended in recent years by radical theory. Stylistics can be evaluative (i.e. judge the literary worth on stylistic criteria), but more commonly attempts to simply analyze and describe the workings of texts which have already been selected as noteworthy on other grounds.

Analyses can appear objective, detailed and technical, even requiring computer assistance, but some caution is needed. Linguistics is currently a battlefield of contending theories, with no settlement in sight. Many critics have no formal training in linguistics, or even proper reading, and are apt to build on theories (commonly those of Saussure or Jacobson) that are inappropriate and/or no longer accepted. Some of the commonest terms, e.g. deep structure, foregrounding, have little or no experimental support. {2} Linguistics has rather different objectives, moreover: to study languages in their entirety and generality, not their use in art forms. Stylistic excellence — intelligence, originality, density and variety of verbal devices — play their part in literature, but aesthetics has long recognized that other aspects are equally important: fidelity to experience, emotional shaping, significant content. Stylistics may well be popular because it regards literature as simply part of language and therefore (neglecting the aesthetic dimension) without a privileged status, which allows the literary canon to be replaced by one more politically or sociologically acceptable. {3}

Why then employ stylistics at all? Because form is important in poetry, and stylistics has the largest armoury of analytical weapons. Moreover, stylistics need not be reductive and simplistic. There is no need to embrace Jacobson’s theory that poetry is characterized by the projection of the paradigmatic axis onto the syntagmatic one. {4} Nor accept Bradford’s theory of a double spiral: {5} literature has too richly varied a history to be fitted into such a straitjacket. Stylistics suggests why certain devices are effective, but does not offer recipes, any more than theories of musical harmony explains away the gifts of individual composers.

Some stylistic analysis is to be found in most types of literary criticism, and differences between the traditional, New Criticism and Stylistics approaches are often matters of emphasis. Style is a term of approbation in everyday use (“that woman has style”, etc.), and may be so for traditional and New Criticism. But where the first would judge a poem by reference to typical work of the period (Jacobean, Romantic, Modernist, etc.), or according to genre, the New Criticism would probably simply note the conventions, explain what was unclear to a modern audience, and then pass on to a detailed analysis in terms of verbal density, complexity, ambiguity, etc. To the Stylistic critic, however, style means simply how something is expressed, which can be studied in all language, aesthetic and non-aesthetic. {6}

Stylistics is a very technical subject, which hardly makes for engrossing, or indeed uncontentious, {7} reading. The treatment here is very simple: just the bare bones, with some references cited. Under various categories the poem is analyzed in a dry manner, the more salient indications noted, and some recommendations made in Conclusions.

Ulasan

Ikhtisar
Stilistik adalah berharga jika pendekatan bertele-tele terhadap kritik, dan memaksa memperhatikan detil puisi itu. Dua dari tiga latihan sederhana dilakukan di sini menunjukkan bahwa puisi kekurangan dalam struktur, dan perlu perombakan secara radikal.

Stilistik linguistik berlaku pada sastra dengan harapan mendapatkan analisis yang lebih luas, cermat dan objektif. Para pelopor adalah Praha dan sekolah Rusia, tetapi pendekatan mereka telah disesuaikan dan dikembangkan dalam beberapa tahun terakhir oleh teori radikal. Stilistik dapat evaluatif (penilai yaitu nilai sastra kriteria stilistik), tetapi lebih sering mencoba untuk hanya menganalisis dan menggambarkan kerja teks-teks yang telah dipilih sebagai yang patut dicatat dengan alasan lain.