Digunakan untuk memenuhi tugas akhir semester mata kuliah Linguistik Kontrastif dengan dosen pengampu Siti Maslakhah, M. Hum.

Oleh

Hamdan Nugroho                            07201241024

Nelvia Susmita                                  07201241015

Sri Wahyuni Damayanti                     07201241011

PROGRAM STUDI

PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

FAKULTAS BAHASA DAN SENI

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

2011


  1. A. PENDAHULUAN
    1. a. LATAR BELAKANG MASALAH

Bahasa yang ada di Indonesia sangat beragam. Dari Sabang dan Merauke begitu banyak bahasa yang memperlihatkan keanekaragaman. Tak kurang dari seratus lima puluh bahasa yang ada. Beragamnya bahasa tersebut memungkinkan adanya studi tentang kebahasaan yang menarik. Perbedaan-perbedaan bisa disimpulkan antar bahasa.

Begitu juga dengan bahasa Jawa dengan Sumbawa. Bahasa Jawa merupakan bahasa daerah yang paling banyak penuturnya di Indonesia. Selain karena memang penghuni pulau jawa terpadat dan terbanyak, ternyata suku Jawa memang sudah tersebar ke segala penjuru nusantara. Adapun bahasa Sumbawa merupakan suatu bahasa daerah yang berasal dari NTB. Bahasa Jawa dengan Sumbawa menarik dan layak untuk dianalisis secara kontrastif karena strukturnya yang lengkap dan memiliki cirri khas atau karakteristik masing-masing.

  1. b. RUMUSAN MASALAH
    1. i.      Seperti apa struktur fonologi, morfologi, dan sintaksis Bahasa Sumbawa dan Jawa?
    2. ii.      Seperti apa bentuk kontrastif fonologi, morfologi, dan sintaksis Bahasa Sumbawa dan Jawa?

  1. c. TUJUAN
    1. i.      Untuk mengetahui struktur fonologi, morfologi, dan sintaksis Bahasa Sumbawa dan Jawa.
    2. ii.      Untuk mengetahui bentuk kontrastif fonologi, morfologi, dan sintaksis Bahasa Sumbawa dan Jawa?


  1. B. PEMBAHASAN
    1. a. FONOLOGI
      1. i.      Bahasa Sumbawa

Fonem bahasa Sumbawa terdiri dari fonem segmental dan fonem suprasegmental. Fonem segmental terdiri dari 8 vokal dan 18 konsonan, sedangkan fonem suprasegmental terdiri dari fonem tekanan.

  1. Vokal Bahasa Sumbawa

Kedelapan Vokal bahasa Sumbawa ialah /i/, /e/, dan /ε/  yang merupakan Vokal depan; /∂/ dan /a/ yang merupakan Vokal pusat; serta /u/, /с/, ر// yang merupakan Vokal belakang. Dua dari Vokal ini yaitu /i/ dan /u/, masing-masing mempunyai dua alofon; /i/ mempunyai alofon /I/ dan /i/ serta /u/ mempunyai alofon /U/ dan /u/. Kecuali /∂/, semua Vokal pusat tengah /∂/ hanya terdapat pada posisi depan dan tengah saja.

Contoh:

/i/   :               /idung/                 ‘hidung’

/gili/                       ‘pulau’

/e/ :               /ete/                     ‘ambil’

/belo/                   ‘panjang’

/∂/ :               /∂mpat/               ‘empat’

/g∂ra/                   ‘tampan’

/a/  :               /ade/                    ‘yang’

/basa/                   ‘bahasa’

/u/ :               /bulu/                   ‘bulu’

/muntu/              ‘sedang’

/o/ :               /ode/                    ‘kecil’

/medo/                                ‘obat’

/ر/  :               /رtak/                   ‘kepala’

/kرrرk/                 ‘leher’

  1. Konsonan Bahasa Sumbawa

Konsonan bahasa Sumbawa berjumlah 18 buah terdiri dari:

3 konsonan bilabial                  : /p/, /b/, /m/

1 konsonan labiodental         : /w/

6 konsonan alveolar                                : /t/, /d/, /s/, /r/, /l/, /n/

4 konsonan palatolveolar     : /c/, /j/, / ñ/, /y/

3 konsonan velar                      : /k/, /g/, /ŋ/

1 konsonan glotal                     : /?/

Dari kedelapan belas kkonsonan itu hanya Sembilan terdapat pada semua posisi dalam kata, yakni /p/, /t/, /k/, /s/, /l/, /m/, /n/, /r/, dan /ŋ/.

Contoh:

/p/ : /pukil/                ‘pukul’

/t/  : /tau/                   ‘orang’

/k/  : /kalako/             ‘guna’

/s/  : /sit/                     ‘gigit’

/l/   : /lalo/                   ‘pergi’

/m/                : /mara/               ‘seperti’

/n/ : /nantu/              ‘menantu’

/ŋ/ : /ŋame/              ‘mengunyah’

/r/  : /ruris/                 ‘lurus’

Delapan konsonan lainnya hanya menempati posisi depan dan tengah dalam kata. Delapan konsonan itu adalah /b/, /d/, /c/, /j/, /g/, /ñ/, /w/, dan /y/.

Contoh:

/b/ : /kebo/               ‘kerbau’

/d/ : /kidat/                ‘alis’

/c/  : /kunci/               ‘kunci’

/j/   : /jagir/                 ‘tinju’

/g/  : /jaga/                 ‘pagi’

/ñ/ : /ñaman/            ‘enak’

/w/                : /awan/               ‘awan’

/y/  : /yam/                 ‘seperti’

Sebuah konsonan yang lain, yaitu /?/, hanya terdapat dalam posisi akhir kata.

Contoh:

/?/  : /mata?/             ‘menuai’

/bara?/               ‘bengkak’

  1. ii.      Bahasa Jawa

Cabang linguistik yang khusus mempelajari seluk beluk bunyi bahasa ialah Fonologi. Fonologi dalam bahasa Inggris phonology sedang dalam bahasa Jawa widyaswara merupakan cabang linguistic yang mempelajari system bunyi bahasa-bahasa.

Fonogi telah didefenisikan sebagai kajian system bunyi, adalah suatu kajian bagaimana struktur dan fungsi bunyi ujaran dalam bahasa-bahasa.

Klasifikasi bunyi bahasa:

  1. Klasifikasi bunyi bahasa berdasarkan rongga yang dilewati udara
    1. Bunyi oral

Adalah bunyi bahasa yang proses pembentukannya udara mengalir melalui rongga mulut. Yaitu sebagai berikut: [p], [t], [c], [k], [b], [d], [j], [g], [s], [h], [l], [r], [w], [y], dan [?].

  1. Bunyi nasal

Adalah bunyi bahasa yang dalam proses pembentukannya udara yang keluar dari paru-paru mengalir melalui rongga hidung. Yaitu sebagai berikut: [m], [n], [k], dan [n].

  1. Klasifikasi bunyi bahasa berdasarkan ada tidaknya proses artikulasi
    1. Bunyi vokal

Adalah bunyi bahasa yang dalam proses pembentukannya udara yang keluar dari paru-paru tidak mengalami proses artikulasi. Vokal bulat bahasa Jawa adalah: [u], [U], [o], dan [e] sedangkan Vokal tak bulatnya [i], [I], [e], [U], [a], dan [Q].

  1. Bunyi konsonan

Adalah bunyi bahasa yang dihasilkan dengan adanya proses artikulasi, yakni dengan dihambatnya aliran udara yang keluar masuknya paru-paru pada salah satu tempat di saluran udara di atas glotis atau di salah satu alat ucap manusia.

  1. Klasifikasi konsonan berdasarkan alat ucap
    1. Artikulasi bunyi bilabial: [p], [b], dan [m]
    2. Artikulasi bunyi labio-dental: [f], [w] dan [v]
    3. Artikulasi bunyi apiko-dental: [t], [d]
    4. Artikulasi bunyi apiko-alveolar: [n], [l], dan [r]
    5. Artikulasi bunyi apiko-palatal: [p], [d]
    6. Artikulasi bunyi lamino alveolar: [s] dan [z]
    7. Artikulasi bunyi medio-palatal: [c], [j], [y]
    8. Artikulasi bunyi dorso-velar: [k], [g], [K], dan [x]
    9. Artikulasi bunyi uvular: [R]
    10. Klasifikasi konsonan berdasarkan jenis hambatan
      1. Konsonan letup: [p], [b], [d], [t], [d], [c], [j], [k], [g], dan [?]
      2. Konsonan geser: [f], [v], [s], [z], [x], dan [h]
      3. Konsonan lateral: [l]
      4. Konsonan getar: [r]
      5. Konsonan afrikat: [t] dan [d]
      6. Bunyi semi Vokal: [w] dan [y]
      7. iii.      Analisis Kontrastif

Bahasa Jawa dan Sumbawa memiliki beberapa perbedaan yang mencolok. Perbedaan tersebut diantanya adalah sebagai berikut.

  1. Dalam bahasa Sumbawa terdapat fonem segmental dan fonem suprasegmental. Fonem segmental terdiri dari 8 vokal dan 18 konsonan, sedangkan fonem suprasegmental terdiri dari fonem tekanan. Hal ini tidak terdapat dalam bahasa Jawa karena yang ada hanya fonel segmental. Tekanan dalam bahasa Jawa tidak membedakan arti. Berarti perbedaan tekanan, tinggi rendah dalam bahasa Sumbawa bisa membedakan makna tapi dalam bahasa Jawa tidak membedakan makna.
  2. Vocal bahasa Sumbawa terdiri dari /i/, /e/, dan /ε/  yang merupakan Vokal depan; /∂/ dan /a/ yang merupakan Vokal pusat; serta /u/, /с/, ر// yang merupakan Vokal belakang. Adapun vokal bahasa Jawa adalah vocal bulat [u], [U], [o], dan [e] sedangkan Vokal tak bulatnya [i], [I], [e], [U], [a], dan [Q]. Vokal bahasa Sumbawa berjumlah 8 buah,sedangkan bahasa Jawa berjumlah 10 buah. Hal ini berarti bahasa jawa memiliki vokal yang lebih banyak. Bunyi yang dihasilkan pun menjadi lebih bervariatif.
  3. Fonologi dalam bahasa Sumbawa mengenal posisi dalam kata. Misalnya dari kedelapan belas konsonan itu hanya sembilan terdapat pada semua posisi dalam kata /p/, /t/, /k/, /s/, /l/, /m/, /n/, /r/, dan /ŋ/. Lebih lengkapnya  posisi dalam kata bisa saja pada semua posisi, depan dan tengah, atau akhir kata. Model seperti ini tidak dikenal dalam bahasa Jawa. Bentuk fonem apapun bisa menempati seluruh posisi dalam kata baik itu vokal maupun konsonannya.
  4. b. MOFOLOGI
    1. i.      Bahasa Sumbawa

Morfologi bukan saja mencakup morfem serta wujud dan jenisnya melainkan juga penggabungan morfem-morfem untuk membentuk kata. Berbagai proses pembentukan kata dari bentuk lain yang merupakan bentuk dasarnya disebut proses morfologis.

Proses morfologi dalam bahasa Sumbawa menghasilkan kata kompleks (complex word), kata majemuk (compound word), dan kata kontraktif (contractive word). Ketiga macam kata itu dapat disebut kata jadian dalam bahasa Sumbawa. Untuk mendapatkan gambaran lebih jelas tentang proses morfologi dalam bahasa Sumbawa, selanjutnya diuraikan empat macam froses morfologis secara lebih terperinci, yaitu proses afiksasi, pengulangan, pemajemukan, dan kontraksi.

  1. Proses Afiksasi

Proses afiksasi adalah proses morfologi mengenani penggabungan morfem bebas dengan morfem terikat dalam pembentukan kata. Dalam proses afiksasi morfem terikat bergabung dengan paling sedikit sebuah morfem bebas yang berlaku sebagai bentuk dasarnya. Dalam bahasa Sumbawa bentuk dasar dapat terdiri dari sebuah morfem bebas saja, sebuah morfem bebas yang sudah berimbuhan, atau dua buah morfem bebas.

Afiks dalam bahasa Sumbawa, seperti dapat dilihat dari uraian di muka, hanyalah terbatas pada:

Awalan                                        : N-, ka-, ba-, pa-, sa-, tu-, ya-, ma-, ra-, ga-

Awalan persona                       : ku-, mu, tu-

Awalan pemanis                      : mo-, si-

Awalan penanda waktu       : ka-, ya-

Sisipan                                          : -eN-

Akhiran persona                      : -ku, -nya, -mu

Kecuali imbuhan persona, sulit ditentukan ekivalen masing-masing imbuhan ini dalam bahasa Indonesia karena setiap imbuhan ini mengandung makna lebih dari satu.

  1. Proses Pengulangan

Proses pengulangan adalah proses pembentukan kata dengan cara pengulangan, yaitu berulangnya suatu bentuk dasar, baik secara penuh maupun sebagian (parsial). Sejalan dengan proses morfologi, pengulangan dapat berasal dari penggabungan bentuk dasar (stem) dan morfem terikat (imbuhan) dengan bentuk dasar. Proses pengulangan dapat membentuk kata tanpa atau dengan perubahan fonem bentuk dasarnya.

Semua jenis bentuk dasar yang mengalami pengulangan bervariasi, tetapi pada umumnya pengulangan berasal dari bentuk benda, bentuk sifat, dan bentuk kerja (verbal). Karena bahasa Sumbawa tidak mengenal pengulangan parsial, bentuk reduplikatif.

Contoh bentuk ulang:

Panguling-nguling ‘tempat untuk tidur-tiduran’

(bentuk dasarnya nguling ‘baring’)

Kameri Kamore ‘bergembira ria’

(bentuk dasarnya beri ‘gembira’ mendapat awalan ka- menjadi kameri ‘bergembira’)

  1. Proses Pemajemukan

Proses pemajukan ialah proses pembentukan kata dengan cara penggabungan morfem bebas dengan morfem bebas lainnya dengan atau tanpa perubahan morfem. Dalam bahasa Sumbawa pemajemukan pada umumnya berupa penjajaran dua buah morfem bebas dan dalam hal ini kedua morfem bebas itu dapat disebut bentuk dasar.

Contoh:

Morfem bebas lawang ‘pintu’ dan sala ‘setengah’ terbentuk kata majemuk lawang sala ‘jendela’

Morfem bebas ina ‘ibu’ dan bapa ‘bapak’ terbentuk kata majemuk ina bapa ‘ibu bapak; orang tua’.

  1. Proses Kontraksi

Proses kontraksi ialah penggabungan dua morfem bebas yang menghasilkan penyusutan salah satu atau kedua morfem yang tergabung itu. Beberapa penggabungan dari proses kontraksi dapat menghasilkan makna yang sedikit berubah dari makna morfem-morfemnya.

Proses kontraksi berbeda dengan proses pemajemukan dalam dua hal pokok. Pertama, proses kontraksi mengakibatkan penyusutan atau perubahan fonem-fonem tanpa perubahan fonologis umum. Contohnya morfem pang ‘di’ bila digabungkan dengan morfem-morfem tertentu, seperti bawa ‘bawah’, bao ‘atas’, deng ‘samping’, selalu menyusut menjadi nasal sehingga menghasilkan mbawa ‘di bawah’, mbao ‘di atas’, ndeng ‘di samping’. Penggabungan ade ‘yang’ dengan nan ‘itu’ menghasilakan kata kontraktif dean ‘yang itu’. Telihat bahwa mbawa dan yang lain penyusutan terjadi hanya pada morfem pertama sedangkan pada dean penyusutan terjadi pada kedua morfem pendukungnya.

Kedua, penggabungan kontraksi terjadi antar dua bentuk dasar yang berlainan jenis katanya, sedangkan kata majemuk umumnya melibatkan dua bentuk dasar yang sejenis. Misalnya, mbao terjadi dari pang ‘di’ (kata depan) dan atas (kata benda), dean berasal dari ade ‘yang’ kata sandang dan nan (kata penunjuk). Contoh lain nyonde ‘orang kecil’ terjadi dari nya ‘orang’ (kata benda) dan ode ‘kecil’ (kata sifat).

  1. ii.      Bahasa Jawa

Morfologi didefenisikan olah banyak ahli antara lain, Ramlan (1985:18) menguraikan morfologi sebagian bagian dari ilmu bahasa yang bidangnya menyelidiki seluk beluk bentuk kata, dan kemungkinan adanya perubahan golongan dan arti kata yang timbul sebagai akibat perubahan bentuk kata.

Proses morfologi bahasa Jawa

  1. Proses pengimbuhan atau Wuwuhan

Wuwuhan adalah proses pengimbuhan pada satuan bentuk tunggal atau bentuk kompleks untuk membentuk morfem baru atau satuan yang lebih luas.

  1. Pengimbuhan di depan atau Ater-ater

Pengimbuhan ater-ater adalh proses pengimbuhan morfem tunggal atau kompleks dengan morfem ikat yang disebut atre-ater yang di letakkan di depan morfem tersebut.

Dalam bahasa Jawa imbuhan di depan memiliki jumlah yang relative cukup banyak. Imbuhan tersebut antara lain: N- (n-, ny-, m-. ng-), dak-/ tak-, kok-/ tok-, di-, ka-, ke-, a-, aN-, paN-, ma-, me-, sa-, pa-, pi-, pra-, tar-, kuma-, kami-, kapi-.

  1. Pengimbuhan di tengah atau seselan

Dalam bahasa Jawa pengimbuhan tersebut adalah seselan, atau sisiandalam bahasa Indonesia. Sisipan dalam bahasa Jawa ada 4 morfem yaitu: -in-, -um-, -er-, dan –el-.

  1. Pengimbuhan di belakang atau penambang

Imbuhan di belakang atau akhiran dalam bahasa Jawa di sebut panambang. Akhiran dalam bahasa Jawa antara lain: -i, -ake, -a, -en, -na, -ana, -an, dan –e

  1. Pengimbuhan bersama/ bergantian atau konfliks/ simulfiks

Imbuhan yang melekatnya dengan morfem lain bersamaan atau bergantian dengan imbuhan lain biasa di sebut sebagai morfem konflik atau simulfiks. Imbuhan-imbuhan tersebut adalah: ka- / -an, ke-/ -an, ke-/ -en, N-/ -I, N-/ -ake, N-/ -na, paN-/   -an,paN-/ -e, pa-/ -an, pi-/ -an, pra-/ -an, tak-/ -ane, tak-/ -e, tak-/ -I, tak-/ -na, tak-/ -ana, tak-/ -a, kok-/ -I, kok-/ -ake/ -ke, kok-/ -a, kok-/ -na, kok-/ -ana, di-/ -I, di-/ -ake, kami-/ -en, kami-/ -an, sa-/ -e, -in-/ -an.

  1. Proses pengulangan atau rangkep

Proses pengulangan dalam istilah bahasa Jawa rangkep adalah pengulangan gramatik  sebagian atau seluruhnya, dengan variasi fonem ataupun tidak.

  1. Pengulangan penuh atau dwilingga

Adalah pengulangan morfem dasar atau morfem asal secara utuh. Pengulangan bentuk lingga atau asal diistilahkan dengan dwilingga atau dua lingga.

  1. Pengulangan perubahan bunyi atau dwilingga salin swara

Adalah pengulangan dengan mengubah bunyi dari kata dasar yang diulang. Perubahan dapat terjadi pada morfem bagian depan, bagian belakang dan dapat juga terjadi pada kedua morfem yaitu bagian depan dan belakang.

  1. Pengulangan parsial awal atau dwipura

Adalah pengulangan yang wujud ulangan fonemisnya sama dengan wujud fonemis atau silabe awal bentuk dasarnya.

  1. Pengulangan parsial akhir atau dwiwasana

Adalah pengulangan silabe akhir, yang diulang di belakang silabe akhir tersebut.

  1. Pengulangan dengan pembubuhan afiks

Adalah bentuk dasar dengan menambahkan afiks pada pengulangannya. Afiks yang dibubuhkan adalah awalan, sisipan, akhiran dan gabungan awalan dan akhiran.

  1. Pengulangan semu

Adalah bentuk morfem yang terlihat seperti telah mengalami pengulangan tetapi sebetulnya kata dasar atau bentuk dasar, sehingga sebetulnya tidak terjadi proses pengulanagan.

  1. Pengulangan semantik

Adalah pengulangan arti melalui penggabungan dua bentuk yang mengandung arti yang sinonim. Dalam bahasa Jawa bentuk pengulangan semacam ini dinamakan bentuk saroja’ rangkap’.

  1. Proses pemajemukan atau camboran

Adalah penggabungan dua kata atau lebih yang memunculkan satu kata baru dengan arti baru (Ramlan, 1985:69).

  1. Proses perubahan dalam, peninggian vokal dan pendiftongan

Proses morfologi bahasa Jawa secara lazim baru dikemukakan 3 proses yaitu: afiksasi, pengulangan, dan pemajemukan.

  1. iii.      Analisis Kontrastif
    1. Bentuk morfologi bahasa Sumbawa terdiri dari empat proses yaitu proses afiksasi, pengulangan, pemajemukan, dan kontraksi. Sedangkan bahasa Jawa 3 proses afiksasi, pengulangan, dan pemajemukan. Hal ini menunjukkan variasi proses morfologi bahasa Sumbawa lebih banyak satu proses, yaitu kontraksi. Proses kontraksi berbeda dengan proses pemajemukan. Proses kontraksi ialah penggabungan dua morfem bebas yang menghasilkan penyusutan salah satu atau kedua morfem yang tergabung itu. Beberapa penggabungan dari proses kontraksi dapat menghasilkan makna yang sedikit berubah dari makna morfem-morfemnya.
    2. Jumlah proses afiksasi antara bahasa Sumbawa dan Jawa terdapat perbedaan yang signifikan. Afiks dalam bahasa Sumbawa hanyalah terbatas pada:

Awalan                                                : N-, ka-, ba-, pa-, sa-, tu-, ya-, ma-, ra-, ga-

Awalan persona               : ku-, mu, tu-

Awalan pemanis              : mo-, si-

Awalan penanda waktu               : ka-, ya-

Sisipan                                  : -eN-

Akhiran persona              : -ku, -nya, -mu

Sedangkan bahasa Jawa terdiri dari

  1. Pengimbuhan di depan atau Ater-ater

Pengimbuhan ater-ater adalh proses pengimbuhan morfem tunggal atau kompleks dengan morfem ikat yang disebut atre-ater yang di letakkan di depan morfem tersebut.

Dalam bahasa Jawa imbuhan di depan memiliki jumlah yang relativ cukup banyak. Imbuhan tersebut antara lain: N- (n-, ny-, m-. ng-), dak-/ tak-, kok-/ tok-, di-, ka-, ke-, a-, aN-, paN-, ma-, me-, sa-, pa-, pi-, pra-, tar-, kuma-, kami-, kapi-.

  1. Pengimbuhan di tengah atau seselan

Dalam bahasa Jawa pengimbuhan tersebut adalah seselan, atau sisiandalam bahasa Indonesia. Sisipan dalam bahasa Jawa ada 4 morfem yaitu: -in-, -um-, -er-, dan –el-.

  1. Pengimbuhan di belakang atau penambang

Imbuhan di belakang atau akhiran dalam bahasa Jawa di sebut panambang. Akhiran dalam bahasa Jawa antara lain: -i, -ake, -a, -en, -na, -ana, -an, dan –e

  1. Pengimbuhan bersama/ bergantian atau konfliks/ simulfiks

Imbuhan yang melekatnya dengan morfem lain bersamaan atau bergantian dengan imbuhan lain biasa di sebut sebagai morfem konflik atau simulfiks. Imbuhan-imbuhan tersebut adalah: ka- / -an, ke-/ -an, ke-/ -en, N-/ -I, N-/ -ake, N-/ -na, paN-/   -an,paN-/ -e, pa-/ -an, pi-/ -an, pra-/ -an, tak-/ -ane, tak-/ -e, tak-/ -I, tak-/ -na, tak-/ -ana, tak-/ -a, kok-/ -I, kok-/ -ake/ -ke, kok-/ -a, kok-/ -na, kok-/ -ana, di-/ -I, di-/ -ake, kami-/ -en, kami-/ -an, sa-/ -e, -in-/ -an.

  1. Dalam pengulangan, bahasa Sumbawa tidak mengenal pengulangan parsial, bentuk reduplikatif. Proses pengulangan itu sendiri adalah proses pembentukan kata dengan cara pengulangan, yaitu berulangnya suatu bentuk dasar, baik secara penuh maupun sebagian (parsial). Hal ini kontras dengan bahasa jawa yang terdapat pengulangan parsial awal atau dwipura yang berupa pengulangan yang wujud ulangan fonemisnya sama dengan wujud fonemis atau silabe awal bentuk dasarnya. Bahkan terdapat juga pengulangan parsial akhir atau dwiwasana berupa pengulangan silabe akhir, yang diulang di belakang silabe akhir tersebut.
  1. c. SINTAKSIS
    1. i.      Bahasa Sumbawa

Kalimat dasar inti dapat berubah menjadi kalimat dasar transformasi dan kalimat majemuk. Proses perubahan kalimat dasar inti inilah yang disebut proses sintaksis. Proses semacam ini dipakai secara produktif  dalam bahasa Sumbawa.

Sesuai dengan kata yang ada, proses sintaksis ini dapat berupa perubahan struktur dan perubahan fungsi atau maknanya. Perbedaan ini tidaklah menghilangkan kenyataan bahwa kedua jenis proses itu banyak terjadi secara bersamaan. Artinya adalah bahwa perubahan struktur kalimat mengubah pula fungsi kalimat itu. Misalnya, kalimat dasar ini Aku lalo ‘Aku pergi’ dapat diubah strukturnya dengan mambahkan nongka sebelum kulalo, menjadi, aku nongka kulalo ‘aku tidak pergi’. Penambahan ini ternyata mengubah fungsi kalimat menjadi kalimat negatif.

Proses perubahan struktur mengakibatkan perubahan struktur morfosintaksis maupun leksikal pada kalimat dasar ini. Jenis-jenis perubahan ini dalam bahasa Sumbawa meliputi perluasan (penambahan), penyempitan (pengurangan), pergesran unsur, atau campuran dari ketiga jenis itu.

  1. Perluasan
    1. Penambahan Unsur, ialah penambahan konstitusien manasuka. Konstitusien ini dapat berupa frase minimum, dapat juga berupa frase yang terdiri dari dua unsur atau lebih.

Contoh

Kalimat dasar inti:

Amir barari ‘Amir belari’

Penambahan unsur manasuka:

Saperap Amir Barari ‘Kemarin Amir berlari’

  1. Penambahan Unsur Pembatas pada Konstituen Wajib

Contoh:

Kalimat dasar inti:

Bale nan balong ‘Rumah itu bagus’

Penambahan unsur pembatas:

Bale ade rea nan balong ‘Rumah yang besar itu bagus’

  1. Penggantian Frase, penggantian frase (satu atau lebih) yang menjadi kostituen wajib dengan frase lain yang lebih luas. Berbeda dengan proses terdahulu, pada proses inifrase semula hilang.

Contoh:

Kalimat dasar inti:

Nya dapat hadia ‘Dia dapat hadiah’

Pengganti frase subjek:

Ade bau samung dapat hadia ‘Yang dapat enjawab dapat hadiah’

  1. Rapatan, yang dimaksudkan rapatan di sini adalah rapatan yang diakibatkan oleh penggabungan dua kalimat dasar inti dengan menggunakan kata penghubung tertentu.

Contoh:

Kalimat dasar inti:

  1. Kebonya empat ‘kerbaunya empat’
  2. Bedisnya sepulu ‘kambingnya sepuluh’

Rapatan dengan kata penghubung ke ‘dan’:

Kebonya empat ke bedisnya sepulu ‘kerbaunya empat dan kambingnya sepuluh’

  1. Penyempitan

Proses penyempitan dapat terjadi karena pengurangan atau penghilangan suatu kostituen wajib dalam sebuah kalimat dasar atau pada dua buah kalimat dasarinti yang digabungkan.

Contoh:

(1)    Kalimat dasar inti              : Kau mulalo ‘kamu pergi’

Penyempitan                     : Mulalo ‘pergi’

(2)    Kalimat dasar inti:

  1. Si Eti lalo ‘Si Eti pergi’
  2. Si Eti bajoget ‘Si eti berjoget’

Penyempitan

Si Eti lalo bajoget ‘Si Eti perg berjoget’

  1. Pergeseran

Pergeseran atau permutasi kalimat dasar inti dalam bahasa Sumbawa berupa perpindahan letak konstituen-konstituen pendukungnya.

Contoh:

Kalimat dasar inti      : Bedisnya dua kodeng ‘kambingnya dua ekor’

Pergeseran                 : Dua kodeng bedisnya ‘dua ekor kambingnya’

  1. Campuran
    1. Campuran antara perluasan dan penyempitan

Kalimat dasar inti:

  1. Nya Bonong mangan ‘Si Bonong makan’
  2. Nya Bonong tunung ‘Si Bonong tidur’

Penggabungannya menjadi:

Nya Bonong mangan teres tunung ‘Si Bonong makan terus tidur’

(terdapat proses rapatan dan penambahan unsur (teris), tetapi ada juga penghilangan unsur (nya Bonong)

  1. Campuran antara penambahan unsur dan pergeseran

Kalimat dasar inti:

Kau datang ‘Engkau datang’

(dapat diubah dengan cara menggeser konstituen subjek ke belakang predikat, sekaligus menambhakan unsur baru, menjadi:

Datang mo kau ‘Datanglah kamu’

  1. ii.      Bahasa Jawa

Sintaksis adalah ilmu yang membicarakan seluk beluk kata dan penggabungan. Hasil penggabungan kata yang dibicarakan di dalam sintaksis meliputi: frase, klausa dan kalimat.

  1. Kalimat

Kalimat adalah satuan bahasa yang relatif dapat berdiri sendiri, terdiri dari rangkaian kata-kata yang di tandai oleh intonasi akhir dan terdiri dari klausa. Dilihat dari jumlah dan jenis klausa kalimat di bagi menjadi:

  1. Ukara lamba

Ukara lamba atau kalimat tunggal adalah kalimat yang memiliki satu klausa bebas atau memiliki sedikitnya fungtor subyek dan predikat.

Contoh:        Sarinah masak

Sardi macul

  1. Ukara cambor

Ukara cambor atau kalimat majemuk adalah kalimat yang memiliki lebih dari satu klausa bebas atau terdiri dari satu klausa bebas dan sekurang-kurangnya satu klausa terikat.

  1. i.      Ukara camboran sejajar

Yaitu kalimat majemuk yang memilikihubungan klausa setara atau hubungan klausanya tidak ada yang membawahi salah satunya. Contoh: Sartini nggarap PR dena Adhine gawe layangan.

  1. ii.      Ukara camboran susun

Adalah kalimat yang memilki hubungan klausa bawah membawahi. Contoh: sapa gelem urmat, bakal genti diumarti.

  1. Struktur internal klausa utama

Macam-macam bentuk elips atau gothang

  1. Ukara gothang jejere

Kalimat ini hilang fungtor Subyeknya (jejer) dan sering digunakan di dalam kalimat pakon, pangajab, pitakon dan pangajab.

Contoh:        Mangana!

Jupuken dhisik!

Nggawa apa?

  1. Ukara gothang wasesane

Kalimat ini mengeclipskan fungtor predikatnya, dan biasa digunakan dalam kalimat pakon dan pitakon.

Contoh:        Bakso!

Bapak?

Becak!

  1. Ukara gothang jejer lan wasesa

Kalimat terdiri dari fungtor Obyek dan keterangan atau keterangan atau hanya lensa panandhang.

Contoh:        Kidang.

Bapak Bupati.

Pun Ani.

  1. Jenis reponsi yang diharapkan
    1. Kalimat pertanyaan atau berita

Yaitu kalimat yang fungsinya untuk menginformasikan atau menyiarkan tanpa mengharap respon tertentu.

Contoh:        Aku ora munggah pangkat

Dheweke tuku soto

Bocah-bocah dolanan jelungan ing plataran

  1. Kalimat pertanyaan

Yaitu kalimat yang dibentuk untuk memancing resporensi yang berupa jawaban atau kalimat yang memerlukan jawaban dari pendengar.

Contoh:        Kowe nggawa apa?

Apa aku diundang?

Sapa sing mrene mau?

  1. Kalimat perintah

Yaitu kalimat yang isinya memerlukan reponsi berupa tindakan atau perbuatan.

Contoh:        Sardi, tukua lawuh dhisik!

Gawanen ula kuwi!

Kowe kudu lungao saiki!

  1. iii.      Analisis Kontrastif

Secara garis besar kaidah sintaksis antara Bahasa Sumbawa dan Jawa tidak terlalu berbeda. Kalimat dasar inti dapat berubah menjadi kalimat dasar transformasi dan kalimat majemuk. Proses perubahan kalimat dasar inti inilah yang disebut proses sintaksis. Proses semacam ini dipakai secara produktif  dalam bahasa Sumbawa begitu juga jawa.

Sintaksis adalah ilmu yang membicarakan seluk beluk kata dan penggabungan. Hasil penggabungan kata yang dibicarakan di dalam sintaksis meliputi: frase, klausa dan kalimat. Sesuai dengan kata yang ada, proses sintaksis ini dapat berupa perubahan struktur dan perubahan fungsi atau maknanya. Perbedaan ini tidaklah menghilangkan kenyataan bahwa kedua jenis proses itu banyak terjadi secara bersamaan. Artinya adalah bahwa perubahan struktur kalimat mengubah pula fungsi kalimat itu.

Jenis-jenis perubahan dalam pembentukan kalimat dalam bahasa Sumbawa meliputi perluasan (penambahan), penyempitan (pengurangan), pergesran unsur, atau campuran dari ketiga jenis itu. Macam perubahan ini tidak terdapat dalam Bahasa Jawa.


  1. C. PENUTUP
    1. a. KESIMPULAN

Dari pemaparan dalam bagian pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa bahasa Sumbawa dan Jawa dapat diketahui struktur fonologi, morfologi, dan sintaksis. Dari pemaparan itu pula, dapat diketahuai adanya perbedaan yang mencolok dalam struktur fonologi, morfologi, dan sintaksis.

Dalam ranah fonologi terdapat perbedaan tentang keberadaan fonem segmental dan fonem suprasegmental dalam bahasa Sumbawa, jumlah bunyi vokal bahasa Jawa lebih banyak, dan keberadaan bahasa Sumbawa yang mengenal posisi dalam kata.

Untuk morfologi terdapat variasi proses morfologi bahasa Sumbawa lebih banyak satu proses, yaitu kontraksi, jumlah proses afiksasi antara bahasa Jawa lebih banyak dari pada bahasa Sumbawa, dan kasus bahasa Sumbawa tidak mengenal pengulangan parsial, bentuk reduplikatif.

Dalam sintaksis, jenis-jenis perubahan dalam pembentukan kalimat dalam bahasa Sumbawa meliputi perluasan (penambahan), penyempitan (pengurangan), pergesran unsur, atau campuran dari ketiga jenis itu. Macam perubahan ini tidak terdapat dalam Bahasa Jawa.

  1. b. SARAN

Makalah ini masih dengan data dan referensi terbatas. Oleh karena itu, butuh penelitian lebih lanjut tentang hal ini. Terutama penyempurnaan data-data dalam bagaian sintaksis.


  1. D. DAFTAR PUSTAKA

Samsuri. 1975. Morfosintaksis. IKIP Malang

Sumarsono, dkk. 1986. Morfologi dan Sintaksis Bahasa Sumbawa. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.