Digunakan untuk memenuhi tugas mata kuliah Stilistik dengan dosen pengampu Prof. Dr. Burhan Nurgiyantoro.

Oleh

Hamdan Nugroho

07201241024

PROGRAM STUDI

PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

FAKULTAS BAHASA DAN SENI

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

2010

Bahasa merupakan media, alat, atau sarana untuk komunikasi manusia yang satu dengan yang lainnya. Dengan bahasa, umat manusia bisa saling berinteraksi antara satu dengan yang lainnya. Dengan demikian, tersampaikanlah pesan dari orang ke satu kepada orang yang lain, bahkan orang yang lain pun bisa membalas pesan tersebut kepada orang ke satu (pengirim pesan). Hal itu karena bahasa yang digunakan mampu diiterpretasi dan dipahami oleh kedua belah pihak, yakni pengirim pesan dan penerima pesan.

Pada dasarnya, semua makhluk hidup (manusia, binatang, dan tumbuhuan) itu berbahasa. Akan tetapi, hanya manusia yang dihukumi mempunyai bahasa karena hanya manusia yang memiliki akal pikiran untuk belajar dan mempelajari sesuatu, termasuk bahasa. Meski demikian, binatang juga mempunyai bahasa untuk bisa berkomunikasi dengan binatang lain, bahkan dengan manusia, entah itu menggunakan isyarat atau bahasa tubuh yang sekiranya bisa dipahami.

Selain sebagai alat komunikasi, bahasa juga merupakan identitas suatu kelompok. Suatu kelompok bisa teridentifikasi dari mana asalnya dengan tutur bahasa yang digunakan, gaya berbahasa, dan khas pengguna bahasa. Orang Indonesia akan diketahui bahwa ia berasal dari Indonesia jika ia menggunakan bahasa Indonesia sesuai dengan logat bahasa Indonesia. Orang Jawa, Sunda, Batak, dan yang lainnya juga dapat diketahui dari bahasa yang digunakan karena dari masing-masing bahasa tersebut memiliki entitas dan cirri khas yang berbeda-beda sehingga dapat diklarifikasi. Berkaitan dengan hal itu, bahasa juga bisa digunakan dalam budaya bahasa oleh masing-masing kelompok.

Dalam kajiannya, bahasa juga bisa melahirkan karya sastra yang indah. Terlepas dari fungsi bahasa sebagai alat komunikasi, bahasa bisa menjadi sebuah karya sastra yang indah jika disusun dengan diksi (pilihan kata) yang bagus dan sarat akan makna yang mendalam. Dalam hal ini, masing-masing bahasa dengan setiap periodisasinya memilki khas keindahannya. Karya sastra yang lahir dari rahim bahasa itu antara lain; puisi, sajak, cerita pendek, dan lain-lain.

Di dalam ilmu bahasa (linguistik), cabang yang mempelajari tentang style penulisan adalah stylistic. Tugas stylistic adalah mempelajari dan menjelaskan mengapa dan bagaimana style dapat mengutarakan arti dan makna, lalu memberikan efek yang diinginkan penulis pada pembaca.

Gaya bahasa (style),adalah cara-cara khas bagaimana segala sesuatu diungkapkan dengan cara tertentu sehigga tujuan yang dimaksudkan dapat dicapai secara maksimal. Dengan demikian ini, gaya bahasa beragam menurut adat dan budaya berbahasa masing-masing daerah.

Stilistika, yakni ilmu tentang gaya bahasa, menjadi suatu disiplin ilmu yang mempelajari gaya-gaya bahasa. Sebenarnya, penggunaan dari gaya dan ilmu gaya itu secara luas meliputi seluruh aspek kehidupan manusia, bagaimana segala sesuatu dilakukan, dinyatakan, dan diungkapakan. Secara sempit, gaya dan atau ilmu gaya digunakan pada kajian bahasa dan sastra, khususnya adalah puisi.

Gaya bahasa adalah alat tertentu yang menggunakan bahasa untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan pengarang sehingga pembaca dan penikmat dapat tertarik terpukau terhadap hasil karya pengarang tersebut.

Gaya bahasa adalah cara tertentu, dengan tujuan tertentu. Meskipun demikian, gaya tidak bebas sama sekali. Gaya lahir secara bersistem, sebagai tata sastra. Memang benar ada kebebasan penyair, tetapi gaya tetap berada dalam aturan, sebagai puitika sastra.

Gaya bahasa adalah pengungkapan perasaan atau pikiran dengan menggunakan pilihan kata tertentu. Dengan cara itu, kesan dan efek yang ditimbulkan dapat dicapai semaksimal mungkin. Gaya bahasa terbagi menjadi empat golongan:

1)       Gaya bahasa penegasan, terdiri dari:

a)       Repetisi, adalah gaya bahasa yang menegaskan sesuatu dengan mengatakannya secara berulang-ulang

b)       Anafora, pengulangan kata pada awal kalimat

c)       Epifora, pengulangan kata pada akhir kalimat

2)       Gaya bahasa perbandingan,terdiri dari:

a)       Hiperbola, adalah gaya bahasa yang mengungkapkan sesuatu secara berlebihan

b)       Metonimia, adalah gaya bahasa yang menamakan sesuatu dengan nama pabrik, merek, atau yang lainnya

c)       Personifikasi, adalah gaya bahasa yang membandingkan seolah-olah benda mati dapat bernyawa

d)       Metafora, adalah gaya bahasa yang membandingkan sesuatu secara langsung dengan singkat dan padat

3)       Gaya bahasa pertentangan, terdiri dari:

a)       Paradoks, adalah gaya bahasa yang isinya bertentangan dalam satu kalimat

b)       Antitesis, adalah gaya bahasa yang menggunakan paduan kata yang saling bertentangan

c)       Litotes, adalah gaya bahasa yang ditujukan untuk mengurangi makna yang sebenarnya

d)       Oksimoron, adalah gaya bahasa yang antara bagian-bagiannya saling bertentangan

4)       Gaya bahasa sindiran, terdiri dari:

a)       Ironi, adalah gaya bahasa yang mengatakan sesuatu dengan makna yang berlainan

b)       Sinisme, adalah gaya bahasa yang cara pengungkapannya lebih kasar dibandingkan ironi

c)       Sarkasme, adalah gaya bahasa yang sindirannya paling kasar dalam pengungkapannya

Gaya bahasa itu merupakan aspek seni dalam sastra yang dipengaruhi oleh nurani. Melalui gaya bahasa sastrawan menuangkan ekspresinya. Bagaimanapun rasa jengkel dan senang jika dibungkus dengan gaya bahasa akan semakin indah. Dengan demikian gaya bahasa adalah pembungkus ide yang akan menghaluskan wacana sastra.

Gaya bahasa sastra memang berbeda dengan gaya bahasa dalam pembicaraan sehari-hari. Gaya bahasa sastra adalah ragam khusus yang digunakan sastrawan untuk memperindah teks sastra.
Gaya bahasa sastra digolongkan menjadi dua secara garis besar, pertama stilistika deskriptif, yaitu mendekati gaya bahasa sebagai keseluruhan ekspresi kejiwaan yang terkandung dalam suatu bahasa dan meneliti nilai-nilai ekspresi khusus yang terkandung dalam suatu bahasa. Kedua, stilistika genetis, yaitu gaya bahasa individual yang mengandung penggunaan unsur gaya bahasa sebagai suatu ungkapan yang khas pribadi. Gaya bahasa sering menjadi faktor penentu diterima sebuah karya sastra oleh publik berikutnya maupun oleh kritikus sastra.

stlistika hendaknya sampai pada tingkat makna gaya bahasa sastra. Namun ada dua hal , yaitu makna denotatif(makna lugas) dan makna konotatif(makna kias). Kedua makna itu saling berhubungan pemakaian keduanya perlu memperhatikan deskripsi fisikal bahasa. Deskripsi ini akan tampak melalui pilihan kata, yaitu ketepatan dan kesesuaian kosakata. Pemakaian kosakata yang tepat mendukung keindahan karya sastra. Stilistika kiasan ada dua macam. Pertama, gaya retorik, yang meliputi eufinisme, paradoks, tantologi, polisindeton dan sebagainya. Kedua, gaya kiasan, yaitu banyak ragamnya meliputi alegori, personifikasi,simile, sarkasme, dan sebagainya.

Dalam pembicaraan puisi, adalah termasuk sastra. Dalam sastra secara substantif, terkandung gaya (style) dan keindahan (esthetic). Antara stilistika dan estetika, sebenarnya saling melengkapi keberadaannya. Seluruh aspek keindahan dalam karya sastra terkandung dan dibicarakan melalui medium, yaitu unsur-unsur gaya bahasanya. Stilistika menampilkan keindahan, sementara keidahan melibatkan berbagai sarana yang dimiliki oleh gaya bahasa. Stilistika lahir dari rahim retorika, sementara estetika dari filsafat. Keberbedaan asal itulah yang menjadikan saling melengkapi antara keduanya.

Indonesia, telah melahirkan berbagai karya santra. Chairil anwar dengan Aku-nya membangun gaya tersendiri dalam karakter berpuisinya. Putu Wijaya hingga Zawawi Imran juga telah membangun gaya dan karakternya dalam berbahasa dan mengolah bahasa menjadi karya sastra puisi. Dengan demikian, masing-masing penyair memiliki khas yang berbeda-beda.

Begitu pun secara periodik, puitika atau karya sastra di Indonesia pun relatif berubah dari masa ke masa. Periodisasi tersebut terbagi dalam beberapa masa, yakni angkatan balai pustaka (‘20-an), pujannga baru (’30-an), angkatan ’45, angkatan ’60 hingga angkatan ’70 dengan ciri sastra populer  dan sastra perempuan. Kemudian periode sastra angkatan 2000-an dengan ciri postmodernisme.

Karakter yang dibangun pada masing-masing angkatan memiliki ciri tersendiri dalam melahirkan puitika karya sastra. Terlebih lagi periode sastra angkatan 2000-an seperti sekarang ini, keragaman berpuisi telah lebih mengenalkan heterogenitas gaya dan keindahan.

Bahasa merupakan alat kounikasi. Akan tetapi, selain itu, fungsi bahasa juga bisa berupa karya sastra yang menggunakan keindahan kata yang memikat. Indonesia mempunyai bahasa Indonesia yang mana bahasa tersebut telah meahirkan karya-karya yang indah.