Aku terlentang di karpet biru yang sudah kumal. Di ruangan IRM ini, serasa surga, lalu aku mencoba lelapkan mata sayuku. Tak ada ayal, hanya erangan lirih yang mencoba menemani dengan menggoda pilu pada pikiran kalut ini. Tapi aku hanya ingin lelap dan lari. Aku ulangi, aku hanya ingin lelap, emangnya kenapa tho? Aku sebenarnya tidak yakin sebabnya, tapi yang aku ingin hanya pergi dari detik-detik ini. Semuanya serasa menghujam, bak pedang yang mengiris kulit ari tanpa ampun. Lalu mengucur berbagai pikiran kalut yang kian menggelayuti. Kian menggurui, semakin memenuhi batok kepalaku ini. Aku ingin lari, menuju sunyi, yang hanya sendiri, tak ada bisik dan canda yang tiada lucu lagi. Di sana hanya ada damai, gaduh dan keruh sudah dilerai dari habitatnya yang selalu menjejali telinga!

***

“Maafkan saya Pak Karjo, tiada maksud saya untuk meremehkan Bapak.” kataku.

“Tidak bagaimana, kamu seenaknya saja mengirim sms, memintaku mengisi pengajian, memaksa lagi. Emangnya aku ini siapamu? Aku ini gurumu, bukan babumu.” kata Pak Karjo dengan mata melotot.

“Tapi bukankah saya kemarin sudah mengirim surat, untuk pengajian sore ini atas nama IRM.” jawabku kian lirih saja.

“IRM? Emang, kemarin aku sudah menyanggupinya. Tapi tadi malam, kamu sangat tidak sopan. Aku tidak terima itu!” Pak Karjo menambahkan. Lalu pergi. Aku hanya bisa menatapnya dengan nanar, “Ya Rabb…” (maaf, sepertinya aku mulai bingung apa yang harus aku pinta. Aku kalut.)

***

Uang. Dana. Biaya, untuk membeli snack buat kajian sore ini. Aku tidak tahu harus cari dimana. Seharusnya sudah jauh-jauh hari aku mengurusnya ke sekolahan, bertemu dengan Pak Jono, pembina kami. Setelah itu mengajukan proposal kegiatan, lancarlah semuanya. Tapi kini, tinggal 5 jam lagi. Tidaklah cukup untuk melakukan itu semua. Mencoba mengirim sms untuk meminta uang, tidaklah ini alternatif yang baik, bisa jadi malah muncul masalah baru. Aku perlu sadari, aku hanya siswa kecil, sedangkan Pak Jono adalah orang yang berbadan dan berpengaruh besar. Lalu, sebenarnya apa dayaku ini. Pasti bagai kecoa yang dilindas kecoa juga, tapi seukuran gajah.

“Emang aku ini bank, minta uang seenaknya saja. Kamu mikir dong kalo jadi manusia. Jangan seenaknya saja. Semuanya sudah ada birokrasinya, kamua harus ikuti itu. Kita ini jamannya professional, kalau mau ada acara harus mengajukan proposal tiga bulan sebelumnya. Anak siapa sih ini tuh?” kata Pak Jono tiga bulan lalu ketika IRMku tercinta akan mengadakan bedah buku. Semuanya sudah kami rancang, tinggal pelaksanaan dengan motivasi tinggi dan kegigihan yang mengokoh bak karang. Parahnya, tidak tanggung-tanggung, kepala dinas Pendidikan Kota Ijo Royo-royo inipun sudah kami undang. Beliau menyanggupinya.

Tapi apa mau dikata. Dengan wajah sekeras beton, sehitam aspal, sekasar gedhek, tapi semoga berhati tembok putih, kami batalkan acara tersebut. Dengan alasan: keterlambatan pengajuan dana, lebih tepatnya birokrasi yang dirancang manusia yang didewakan lebih mendewa  dari pada yang merancangnya.

“Maafkan aku rakyatku, aku mengecewakan kalian. Kesalahan ini bukan pada manusianya, tapi kesalahan teknis, atau munkin salah cetak saja.” begitu yang ingin aku katakan jika aku menjadi presiden kelak.

***

Kembali ke karpet biru. Semua yang ingin aku hengkangkan ternyata malah menyewa villa di pelupuk kalutku. Mereka menari bahkan berdansa poco-poco, berlenggak-lenggok seperti gadis 15 tahun yang baru saja dibelikan lap top pink. Tapi, lama kelamaan kabur, berubah. Semuanya menjadi lansia, sepertinya para penghuni panti jompo telah mampir ke sini. Oh, bukan, mereka membeli sepetak tanah. Membangun Rumah Susun yang mengais kolong langit yang tidak lagi biru. Taukah engkau? Langit kami sudah berwarna coklat saja?

***

“Dung… Dung… Dung…” perutku sedang memainkan senar drum. Hendakkah engkau diisi? Pastilah. Sejak tadi pagi, perut ini aku biarkan melompong. Sepertinya kondisi ini tidak bisa ditoleransi. Aku harus melenggangkan jasad berbonus nyawa ini menuju kantin. Di sana ingin menyambung harapan. Di sana ada asa tentang kenyataan. Di sanalah aku sering berhutang.

Ada dua orang sahabat karibku. Ponio, seorang asli Medan yang berwajah Papua tapi berlogat Madura, dan Edo, seorang alim diantara teman-temanku. Perubahannya sangat drastic dan mendadak. Tiga bulan lalu kami masih sering mencuri tebu bersama-sama tapi kini jidatnya sudah ada cap hitamnya. Aku sendiri kadang meragukan shalat malamnya, apakah dia sujud terus, tidur sambil sujud, ataukah pakai spidol.

Aku duduk membawa nasi dengan lauk telur dadar. Aku penuhi dengan saus, aku aduk dengan telapak tangan, lalu diremat-remat seperti adonan semen dalam molen besar.

“Eh, kapan tuh kajian yang dulu pernah ceritakan?” tanya Edo.

“Kamu ada apa Bro… Sepertinya wajahmu kayak daun jati meranggas, apalagi ditambah gigi tonggosmu itu, seperti kaktus.” kata  Ponio. Kami memang sering bercanda, tapi khusus Ponio dia yang paling parah, tanpa canggung-canggung tanpa nurani. Bahkan kepala sekolahku pun pernah dipanggilnya dengan sebutan P-man, mentang-mentang wajahnya mirip tokoh kartun itu.

“Aku sendiri juga bingung. Kurang tiga jam lagi. Cuma belum dapat ustadz, biaya, dan konsumsinya.”

“Kalau itu berarti belum ada yang beres dunks.” kata Edo.

“Kenapa juga gak dari dulu kamu minta tolong ma kami.” kata Ponio.

Aku hanya diam.

“Ustadnya aku carikan. Aku punya kenalan, aku hubungi sekarang semoga dia luang.” kata Edo.

“Nih, uang. Kamu butuhnya berapa. Kita pinjam dulu dari infak masjid. Tapi nanti kita tariki infak dan kalau kurang kita iuran. Cepetan kamu cari konsumsi sana!” seru Ponio.

Aku hanya tersenyum.

Terima kasih Allah.

***

“Sedekah itu sangat bermanfaat bagi kita dan orang yang kita sedekahi. Kita tidak akan berkurang hartanya barang secuil pun, yang ada malah bertambah berlipat-lipat dengan jalan yang tidak kita duga-duga. Untuk orang yang kita sedekahi, mereka tertolong, munkin pada saat itu tidak ada rezeki lainnya, maka sedekah kita akan menjadi penyambung nafasnya yang megap-megap…” kata Ustadz Ipin, kenalannya Edo.

Aku beranjak dari barisan samping. Di pintu masjid ada Pak Karjo. Dalam hati aku bertanya, “Buat apa juga dia datang setelah mencoreng-coreng perasaanku habis Duhur tadi. Mau buat perkara aja.”

Tapi, mata Pak Karjo kini teduh. Dia tersenyum, hatiku tiba-tiba luluh. Aku duduk di sampingnya, tersenyum, dia mengucapkan salam dan menyalamiku dengan mantap.

“Aku tidak marah terhadapmu. Aku hanya tidak suka dengan caramu saja. Lain kali, jangan pakai sms untuk meminta mengisi. Apalagi kamu mendesak seperti itu.”

“Iya Pak… Maafkan saya. Saya ketika itu merasa sudah mengirimkan surat permohonan, dan menurut bapak Mardi, Bapak sudah menyanggupinya. Makanya saya sedikit mendesak Bapak. Tapi saya akui, saya memang kurang sopan. Saya benar-benar minta maaf.”

“Tidak apa-apa. Lagian kalian juga sudah dapat ustadz penggantinya kan? Saya langsung pamit saja.”

“Iya Pak, terima kasih.”

***

“Biaya snacknya tadi berapa?” tanya Ponio.

“Tiga puluh ribu rupiah.” jawabku.

“Nih, infak tadi dapat dua puluh tiga ribu tiga ratus. Kurang dikita kan?” kata Edo.

“Tenang saja. Kurangnya pakai uangku. Kemarin aku baru saja mendapat rezeki, beasiswaku turun. Sekalian, inilah ladang sedekahku.” kataku. Saat ini aku memang masih fakir, setiap bulan menodong ayahku untuk uang saku. Makanya aku hanya meniatkan menginfakkan tenagaku, karena hanya itu yang aku punya.  Kecuali hari ini. Aku merasa sangat nikmat untuk menyumbangkan beberapa lembar uangku.

Dalam doa sehabis maghrib aku haturkan, “Ya Allah… Engkaulah Penolong hambamu yang lemah ini. Selama di jalanmu, aku tidak akan ragu. Aku percaya, bahwa berani itu benar.”