1. A. JUDUL

Judul dari proposal tugas akhir ini adalah Keefektifan Cerpen Bertema Politik sebagai Media Pendidikan Politik pada Siswa Kelas XI SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta.

  1. B. LATAR BELAKANG MASALAH

Pendidikan politik merupakan keniscayaan yang tidak dapat dielakkan dalam kehidupan siapapun. Apakah sadar atau tidak, pengaruh politik pasti akan berpengaruh dalam kehidupan. Baik itu tataran Rukun Tetangga (RT), lurah, bupati, hingga presiden, kesemuanya menuntut pemahaman tentang apa, siapa, dan bagaimana seseorang memimpin.

Setiap anggota masyarakat sangat mendambakan generasi mudanya dipersiapkan untuk menjadi warganegara yang baik dan dapat berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat dan negaranya. Keinginan tersebut lebih tepat disebut sebagai perhatian yang terus tumbuh, terutama dalam masyarakat demokratis yang termanifestasikan dalam kehidupan dari, oleh, dan untuk rakyat. Dimana pendidikan di Indonesia disertakan dalam  sejak pendidikan dasar hingga perguruan tinggi. Di dalamnya memuat sejarah Negara nusantara ini, perundang-undangan, sistem pemerintahan, dll.

Banyak sekali bukti yang menunjukkan bahwa tak satu pun negara, termasuk Indonesia, telah mencapai tingkat pemahaman dan penerimaan terhadap hak-hak dan tanggung jawab di antara keseluruhan warganegara untuk menyokong kehidupan demokrasi konstitusional. Rakyat Indonesia belumlah memanfaatkan kran demokrasi yang telah dibuka lebar. Kebebasan pers dan berpendapat masih sangat terbatas dimanfaatkan oleh masyarakat secara luas. Dengan kata lain, pemberdayaan masyarakat masih rendah terutama dalam bidang politik. Masyarakat masih sekedar menjadi objek penerima janji para calon legislatif maupun eksekutif ketika kampanye namun menjadi penderita kebijakan pemerintah yang sering merugikan tanpa bisa dihargai hak bicaranya (secara substansi) oleh pemerintah. Kondisi ini sangat mungkin dikarenakan kesalahan dalam proses pendidikan politik bagi pemilih pemula yang notabene warga belajar sekolah menengah. Kesalahan itu bisa saja pada kurikulum, tenaga pengajar, sarana prasarana pembelajaran, atau yang lainnya.

Ketimpangan ini misalnya dilihat dalam pesta politik, pemilihan umum. Tampak jelas dari momentum kampanye dimana selama ini justru menampakkan pembodohan pemilih, dimana prosesi pemilu sekadar melibatkan pemilih pemula untuk meramaikan kampanye melalui karnaval kendaraan bermotor, joget bersama artis, bagi-bagi kaus, tanpa dibarengi dengan proses-proses pencerdasan melalui dialog, misalnya pemahaman visi-misi kandidat. Ruang dialog yang mampu membentuk dan mengasah rasionalitas pemilih pemula belum mampu terbangun. Kalaupun ada proses tersebut, selama ini tidak lebih dari upaya pemilih pemula sendiri yang berasal dari komunitas kampus.

Hal yang kiranya belum terjadi pada pemilih pemula dari pelajar (SMA), maupun dari pemilih pemula di luar pelajar dan mahasiswa yakni mereka dengan usia 17-21 tahun yang sudah tidak lagi mengenyam bangku pendidikan. Mereka semakin menjadi sapi perahan elite politik tanpa adanya upaya proses pencerdasan yang semestinya sedini mungkin didapat. Lebih sial lagi menjadi bagian dari pemilih pragmatis ekonomis yang mendasarkan pada nilai uang yang akan diterima. Dalam seremoni demokrasi selama ini, sikap kritis yang semestinya muncul dari pemilih pemula menjadi kurang tampak. Paling parah, adanya bujukan bahkan pemaksaan dari golongan tua untuk memilih salah satu parpol.

Maka pendidikan bagi pemilih pemula diarahkan untuk mempertajam daya kritis pemilih, mewujudkan yang berpikiran matang dalam menjatuhkan pilihan mereka, menentukan pilihan bukan dengan pertimbangan emosional. Jadi pilihan yang dajatuhkan nanti adalah pilihan objektif, rasional, dan bersikap kritis pada kepentingan politik. Dengan demikian, optimisme bangsa untuk menghindarkan pemilih yang menjatuhkan pilihannya karena pertimbangan uang atau materi, bisa terlaksana.

Dalam konteks pendidikan politik formal dalam kelas, tentunya butuh metode baru yang bisa menyegarkan cara memahami politik sebagai sebuah hal yang tidak tabu dan membentuk sudut pandangan bahwa politik itu untuk semua. Metode itu harus menyenangkan dan memang sudah terkenal ampuh bisa dinikmati khalayak luas serta memiliki tingkat keterbacaan yang kuat.

Dalam program kreatifitas mahasiswa ini ditawarkan metode baru pendidikan politik dengan sastra, cabang seni yang mengutak atik bahasa. Bentuknya yaitu cerita pendek yang sudah sangat popular di kalangan pelajar pada khususnya dan remaja pada umumnya. Bentuk pengajaran politik dengan media cerpen memungkinkan pembelajaran politik itu tidak terlalu susah. Hal ini disebabkan pelajaran tersebut dikemas dalam bentuk cerita yang mudah diterima dan dipahami daripada dalam bentuk uraian. Topic yang dibicarakan bisa dengan keseharian pemimpin bangsa, penerapan nilai-nilai undang-undang dalam pemerintahan, penegakkan hukum terhadap pemerintah yang korup, atau cerita yang lainnya.

Yogyakarta, sebagai barometer pendidikan Indonesia tentunya memiliki standar tinggi terhadap kualitas pendidikan. Untuk itu, dirasa tepat jika dilakukan di salah satu sekolah favorit, SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta. Dari situ diharapkan akan diketahui seberapa efektif penggunaan cerpen sebagai media pendidikan politik pemula, dalam hal ini pelajar.

 

  1. C. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang di atas maka dirumuskan masalah dalam kegiatan ini sebagai berikut.

  1. Adakah perbedaan signifikan antara pembelajaran kemampuan politik dengan menggunakan cerpen bertema politik dengan pembelajaran tanpa menggunakan cerpen bertema politik?
  2. Bagaimana kefeektifan penggunaan cerpen bertema politik sebagai metode alternatif sebagai pendidikan politik pemula?

 

  1. D. TUJUAN

Tujuan penulisan karya tulis ini untuk mengetahui dan menjabarkan keefektifan penggunaan cerpen bertema politik sebagai metode alternatif dalam sebagai pendidikan politik pemula.

 

  1. E. MANFAAT

Jabaran manfaat ditulisnya karya ini antara lain sebagai berikut.

  1. Secara teoritis, penelitian ini mendukung teori yang sudah ada dan dapat membantu meningkatkan pembelajaran politik dengan memanfaatkan cerpen dalam proses pembelajaran.
  2. Secara praktis, hasil penelitian ini bermanfaat bagi berbagai pihak, yaitu bagi guru, siswa, sekolah, dan peneliti. Manfaat tersebut diuraikan sebagai berikut.

a)      Bagi guru penelitian ini dapat digunakan untuk menambah strategi baru yang tepat dalam penyampaian pendidikan politik dalam dengan menggunakan cerpen.

b)      Bagi siswa penelitian ini dapat digunakan sebagai alternatif strategi pembelajaran politik dalam yang efektif dengan menggunakan cerpen.

c)      Bagi sekolah penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan positif terhadap kemajuan sekolah.

  1. Bagi penulis sendiri sebagai bentuk aktualisasi diri atas ide-ide alternatif yang mungkin berguna bagi Negara dan Bangsa.

 

  1. F. KERANGKA TEORI
    1. Pengertian Cerpen

Sebagai salah satu bagian dari karya sastra, cerita pendek (cerpen) memiliki banyak pengertian. Berikut pendapat beberapa ahli tentang pengertian cerita pendek (cerpen). Sumardjo (2001: 91) mengungkapkan bahwa cerita pendek adalah seni, keterampilan menyajikan cerita, yang di dalamnya merupakan satu kesatuan bentuk utuh, manunggal, dan tidak ada bagian-bagian yang tidak perlu, tetapi juga ada bagian yang terlalu banyak. Semuanya pas, integral, dan mengandung suatu arti.

Berdasarkan pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa pengertian cerpen adalah cerita fiksi (rekaan) yang memiliki tokoh utama yang sedikit dan keseluruhan ceritanya membentuk kesan tunggal, kesatuan bentuk, dan tidak ada bagian yang tidak perlu.

  1. Unsur-unsur pembangun cerpen

Cerpen sebagai salah satu jenis prosa fiksi memiliki unsur-unsur yang berbeda dari jenis tulisan yang lain. Tompkins dan Hoskinson (dalam Akhadiah 1994: 312) berpendapat bahwa unsur-unsur sebuah cerpen terdiri atas (1) permulaan/pengantar, tengah/isi, dan akhir cerita, (2) pengulangan atau repetisi, (3) konflik, (4) alur/plot, (5) latar/seting, (6) penokohan, (7) tema, dan (8) sudut pandang penceritaan. Cerpen yang baik memiliki keseluruhan unsure-unsur yang membangun jalan cerita yang memiliki unsur intrinsik dan ekstrinsik. Unsur intrinsik meliputi tema, penokohan, alur/plot, latar/seting, gaya bahasa, dan sudut pandang penceritaan. Adapun Suroto (1990: 88) berpendapat bahwa cerpen pada dasarnya dibangun atas unsur-unsur tema, amanat, perwatakan, latar, dialog, dan pusat pengisahan.

Berdasarkan pendapat tentang unsur-unsur pembangun cerpen di atas dapat disimpulkan bahwa unsur-unsur pembangun cerpen terdiri atas tema, perwatakan, seting, rangkaian peristiawa/alur, amanat, sudut pandang, dan gaya. Adapun semua unsur tersebut berjalinan membentuk makna baru.

  1. Pendidikan Politik

Pendidikan politik bagi pemula, khususnya pelajar yang sedang menempuh studi di sekolah menengah ada dalam pelajaran Kewarganegaraan. Pelajaran ini cukup populer karena sudah dikenalkan esensinya sejak sekolah dasar dan sudah ada sejak Indonesia merdeka. Pendidikan politik selama ini diharapkan mampu memperkuat barisan masyarakat sipil yang beradab dan demokratis amat penting diakukan.

Menurut A Ubaidilah (2009) pendidikan politik bukanlah barang baru dalam sejarah pendidikan nasional. Di era Soekarno, pendidikan politik dikenal dengan pendidikan civic. Demikian pula masa Presiden Soeharto, pendidikan politik sangat intensif dilakukan dengan bermacam nama dan tingkatan. Sayang, pelaksanaan pendidikan politik semasa Orde Baru (Orba), seperti Pendidikan Moral Pancasila (PMP) dan Penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4), ternyata menyimpang dari impian luhur kemanusiaan yang terkandung dalam dasar negara Pancasila. Budaya dan praktik penyalahgunaan kekuasaan serta meningkatnya korupsi di kalangan elite politik dan pelaku bisnis sejak masa Orba hingga kini bisa menjadi fakta nyata gagalnya pendidikan politik  masa lalu.

Hal ini juga diperparah dengan adanya “pembungkaman” hak bicara dan suara dalam setiap pemilu. Hegemoni partai penguasa, Golkar menjadikan warga Negara ini cukup menjadi warga yang dibutuhkan legitimasi dalam mempertahankan kekuasaan orba tanpa bisa mengetahui mengapa orba beserta anteknya harus tetap menjadi penguasa negeri. Hal ini juga yang akhirnya menjadikan Golkar selalu memenangkan setiap pemilu selama orba berkuasa.

Secara konseptual, pendidikan politik adalah suatu bentuk pendidikan yang memuat unsur-unsur pendidikan demokrasi yang berlaku universal, di mana prinsip umum demokrasi yang mengandung pengertian mekanisme sosial politik yang dilakukan melalui prinsip dari, oleh, dan untuk warga negara menjadi fondasi dan tujuannya. Mengaca pada realitas demokrasi di Indonesia, pendidikan demokrasi yang disubordinasikan dalam Pendidikan Politik dengan konsep itu sudah saatnya dilakukan. Tujuan pendidikan ini adalah untuk membangun kesadaran peserta didik akan hak dan kewajibannya sebagai warga negara dan mampu menggunakannya secara demokratis dan beradab.

  1. Cerpen Bertema Politik

Nurgiyantoro (1995: 70) menyebutkan bahwa tema dapat dipandang sebagai dasar cerita, gagasan dasar umum yang dipergunakan untuk mengembangkan cerita. Jadi, cerita tentunya akan “setia” mengikuti gagasan dasar umum yang telah ditetapkan sebelumnya sehingga berbagai peristiwa-konflik dan pemilihan berbagai unsur instrinsik yang lain seperti penokohan, pelataran, dan penyudutpandangan diusahakan  mencerminkan gagasan tersebut.

Cerpen yang bertema politik tentunya memiliki dasar cerita atau gagasan dasar umum yang berhubungan ketatanegaraan dan segala aktivitasnya sehingga terwujud pembelajar yang memiliki kesejawatan akademis, profesional dan personal; ethical, yakni memberi keteladanan, membangun kemauan dan kreativitas.

Dengan cerpen bertema politik akan ditawarkan makna tertentu tentang politik, mengajak para siswa untuk melihat, merasakan, dan menghayati makna tertentu dari kehidupan sebagaimana sudut pandang penulis. Pengalaman para siswa pun bertambah tentang pengalaman dunia politik dan aksi-interaksi lingkungan politik serta nilai-nilai yang seharusnya dipegang para politisi.

 

  1. G. METODE PELAKSANAAN
    1. Pendekatan Penelitian

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan quantitatif. Pendekatan kuantitatif merupakan suatu pendekatan yang bertujuan menguji suatu teori yang menjelaskan tentang hubungan antara kenyataan sosial. Proses penelitian yang dilakukan mengikuti proses berpikir deduktif, yaitu diawali dengan penentuan konsep abstrak berupa teori yang sifatnya umum kemudian dilanjutkan pengumpulan bukti-bukti atau kenyataan untuk pengujian.

Hasil penelitian kuantitatif disajikan dalam bentuk deskripsi dengan menggunakan angka-angka statistik. Penelitian ini menghasilkan data berupa skor keefektifan penggunaan cerpen bertema politik sebagai media pendidikan politik.

Jenis penelitian yang akan dilakukan adalah jenis eksperimen. Jenis ini digunakan karena eksperimen disesuaikan dengan tujuan penelitian, yaitu menentukan apakah penggunaan cerpen bertema politik sebagai media pendidikan politik lebih efektif daripada tanpa menggunakan cerpen bertema politik dalam pembelajaran pendidikan politik.

Desain eksperimen dilakukan dengan cara memberikan perlakuan kepada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol untuk diamati dampak yang dihasilkan. Dampak yang diamati dalam penelitian ini adalah pemahaman tentang politik (setelah diberi perlakuan) pada siswa kelas XI SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta. Kelas yang diberikan cerpen bertema politik disebut kelas eksperimen, sedangkan kelas yang tidak diberikan cerpen bertema politik disebut kelompok kontrol.

  1. Metode Penelitian

Penelitian ini tergolong dalam penelitian quasi eksperimen. Penelitian quasi eksperimen adalah penelitian yang dilakukan dengan mengadakan manipulasi terhadap objek penelitian dan adanya kontrol. Tujuan dari penelitian quasi eksperimen adalah mengkaji ada tidaknya hubungan sebab akibat serta berapa besar hubungan sebab akibat tersebut. Penelitian quasi eksperimen dilakukan dengan cara memberikan perlakuan-perlakuan tertentu terhadap kelompok eksperimen dan menyediakan kelompok kontrol sebagai pembanding.

Metode penelitian yang dipilih adalah metode eksperimen semu atau quasi eksperimental. Penelitian menggunakan metode quasi eksperimental dilakukan dengan cara memilih dua atau lebih kelompok subjek untuk diberi perlakuan eksperimen. Penempatan subjek ke dalam kelompok subjek yang dibandingkan tidak dilakukan secara acak, dengan demikian individu subjek berada dalam kelompok yang akan dibandingkan sebelum penelitian.

Dalam penelitian ini menggunakan desain eksperimen Control Group Pretest Posttest Design. Berikut ini gambaran dari penelitian.

__Kelompok               Pretes              Variabel Bebas                        Postes___

__   E                            Y1                         X                                    Y2____

K                          Y1                         –                                      Y2

 

Keterangan:

E          : Kelas Eksperimen

K         : Kelas Kontrol

Y1       : Pretes

Y2       : Postes

X         : Perlakuan dengan cerpen bertema politik

  1. Variabel Penelitian

Variabel penelitian ini adalah variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas (X) dalam penelitian ini adalah pembelajaran politik dalam pelajaran Pembelajaran Politik dengan cerpen bertema politik, sedangkan variabel terikat (Y) adalah ketrampilan bercerita siswa kelas XI SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta.

  1. Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan di SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta dengan subjek penelitian siswa kelas XI.

  1. Populasi dan Sampel Penelitian

a)      Populasi Penelitian

Keseluruhan subjek penelitian yang menjadi perhatian dan pengamatan sebagai penyedia data disebut populasi. Populasi merupakan keseluruhan anggota subjek penelitian yang memiliki kesamaan karakteristik. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta sebanyak sepuluh kelas berjumlah 360 siswa.

b)      Sampel Penelitian

Penentuan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol pada penelitian ini dilakukan dengan tekhnik cluster random sampling , yaitu dengan sistem undian untuk mengambil 2 kelas.

 

  1. Tekhnik Pengumpulan Data

Tekhnik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes pengisian uraian. Pemberian tes uraian dilakukan dengan cara member tugas kepada siswa untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang telah disediakan peneliti setelah membaca beberapa cerpen bertema politik.

Pengumpulan data tes uraian yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan dilakukan dua tahapan, yaitu tes uraian awal (pretes) dan tes uraian akhir (postes). Tes uraian awal (pretes) dilakukan dengan meminta siswa untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang telah disediakan peneliti dalam lembar jawab yang sudah disediakan secara bersama-sama. Tes uraian akhir (postes) dilakukan pada kedua kelompok dengan cara yang berbeda. Pada kelompok eksperimen siswa diberikan perlakuan menjawab tes uraian setelah membaca beberapa cerpen bertema politik.

Cerpen tersebut berjumlah 4 buah dan durasi pembacaannya kurang lebih 30 menit. Pada kelompok kontrol diberi perlakuan dengan menjawab tes uraian tanpa membaca cerpen bertema politik.

 

  1. H. JADWAL KEGIATAN
No Kegiatan Bulan ke Tempat
1 2 3 4
1 Penyusunan Proposal         UNY
3 Pelaksanaan Penelitian         SMA Muh 1 Yk
5 Refleksi dan Evaluasi         UNY
6 Penyusunan Draft laporan         UNY
8 Penyusunan Laporan         UNY
9 Ujian         UNY
10 Revisi         UNY

 

 

  1. I. DAFTAR PUSTAKA

 

Akhadiah, Sabarti. 1994. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga.

Nurgiyantoro, Burhan. 1995. Teori Kajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Sumardjo, Jacob. 2001. Beberapa  Petunjuk Menulis Cerpen. Bandung: Mitra Kencana.

Suroto. 1990. Teori Bimbingan Apresiasi Sastra Indonesia untuk SMU. Jakarta: Erlangga.

Ubaidillah, A, “Pendidikan Kewarganegaraan dan Demokrasi Indonesia”, diakses dari http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0401/16/opini/794093.htm pada 1 Juni 2009 pukul 12.20