Telah banyak kritik untuk Muhammadiyah, baik otokritik maupun dari luar. Hal itu setidaknya menunjukkan perhatian yang besar dan semangat yang tinggi untuk membangun Muhammadiyah tercinta. Satu hal yang paling ditakutkan oleh kesemuanya, yaitu degradasi atau penurunan atau futur. Raihan bahkan prestasi dalam aktivitas dakwah, pengembangan amal usaha, kaderisasi lewat ortom, dan bentuk-bentuk lainnya, kini sudah semakin kering dan begitu-begitu saja.

Dari situ, hasil –sumber daya manusianya- yang diharapkan mampu meneruskan langkah perjuangan masih jauh dari yang diharapkan. Nilai-nilai atau ideologi, baik Islam dan Muhammadiyah kurang mendarah daging, masih jauh dari sumsum. Padahal inilah yang diperjuangkan, bukan malah sekedar identitas atau pencitraan, bahkan hanya seremonial. Apapun kegiatannya memang penting, tapi perlu dicermati, apapun kegiatannya penanaman ideologilah yang dijejalkan. Hanya saja ruang lingkup dan caranya saja yang menyesuaikan dengan situasi dan kondisi tertentu. Bisa secara indoktrinasi, dialogis, ataupun simbolis.

Bermula dari pemahaman yang kurang, maka wajar saja keyakinan akan kebenaran Muhammadiyah kurang, usaha untuk menegakkannya pun setengah hati. Niatnya sudah tidak bulat, perbuatannya pun tidak sungguh-sungguh, hasilnya pun pasti tanda tanya besar. Dari penyusunan program yang ala kadarnya, hanya mengikuti apa kebiasaan pendahulunya, hingga pelaksanaan yang tidak mempertimbangkan dengan matang nilai penanaman keislaman dan kemuhammadiyahan. Belum lagi dengan frekuensi kegiatan yang rendah, padahal dunia berputar kian cepatnya, apakah alon-alon waton kelako (pelan-pelan asal terlaksana) masih relevan? Kehidupan sehari-harinya tak mencerminkan apa yang digariskan dalam Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah. Ibadahnya tidak mendasarkan dengan Himpunan Putusan Majelis Tarjih. Berorganisasinya tidak menerapkan Matan, Keyakinan, dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah.

Muhammadiyah merupakan gerakan dakwah Islam dengan ber-amar ma’ruf nahi munkar supaya terwujud masyarakat Islam sebenar-benarnya. Dakwah tersebut ditujukan kepada perseorangan yang telah Islam yang bersifat pembaharuan (tajdid), yaitu mengembalikan kepada ajaran Islam yang asli dan murni. Selain itu, dakwah juga ditujukan kepada yang belum Islam, bersifat seruan atau ajakan untuk memeluk Islam. Dakwah untuk masyarakat dilakukan dengan bersifat kebaikan, bimbingan, dan peringatan.

Pimpinan Muhammadiyah seyogyanya menjadi inti penggerak organisasi dari sebuah resimen Muhammadiyah. Sebagai kader penggerak, daya juangnya sangat tergantung dari nilai kekaderannya, yang merupakan tulang punggung dan pusat semangat organisasi. Kualitas Iman, Islam, dan Ihsan terpadu pada dirinya dalam menjalankan Muhammadiyah. Inilah kader berintegritas tinggi, mumpuni dalam ranah akademis-intelektual, keberagamaan, peduli terhadap permasalahan sosial-kemanusiaan guna menghadapi tantangan organisasi di masa depan.

Muhammadiyah masa depan adalah Muhammadiyah yang menawarkan alternatif. Alternatif muncul dari penanaman dan pengembangan gerakan pembaruan secara kontinyu. Al Ma’uun dulu pada zamannya Ahmad Dahlan ditafsirkan sehingga menghasilkan panti asuhan. Kini dengan Al Ma’uun yang sama harus menghasilkan karya nyata lainnya. Peran inilah yang masih luas, tak perlu berebut lahan, tak perlu berpikir pasaran. Hanya membutuhkan kemauan dan sedikit kemampuan dari penggerak Muhammadiyah. Tapi perlu dicamkan, peluang ini akan lewat begitu saja, misalkan kader Muhammadiyah lemah ideologi, banyak permintaan, sedikit perbuatan.

Perlu adanya reorientasi atau pengingatan kembali akan ideologi Muhammadiyah yang “kuno’’ karena kurang ditanamkan. Adanya pergerakan ini untuk menegakkannya, bukan yang lainnya. Maka aktivitas penggerusan ideologi harus dibinasakan. Aktivitas kaderisasi harus diperbanyak dan diperbaiki. Tak masalah dilakukan berkali-kali, tak boleh mengeluh, demi kejayaan yang hanya bisa diraih dengan kesungguhan. Metode-metode perlu diperbarui, jangan sekedar formalitas, parade ceramah, tak jelas hasil dan manfaatnya.

Keberadaan organisasi otonom dan amal usaha yang bertebaran dimana-mana adalah potensi besar yang belum dimaksimalkan. Keberadaannya memang ada, hanya saja harapan yang disematkan banyak dikecewakan. Dari sekian banyak sekolah, berapa yang bisa sepenuhnya dijadikan inti penggerak organisasi dakwah ini. Hanya segelintir, ini sungguh ironis. Beginilah cerminan Muhammadiyah masa depan, diisi oleh si segelintir, kegiatannya pun secuil. Dari yang segelintir itu masih segelintir lagi yang kader ideologis, selainnya adalah kader ikut-ikutan, kader tidak bisa menjadi motor, atau bahkan kader tak layak sebagai kader.

Tawaran untuk masalah ini adalah revolusi kecil-kecilan. Maksudnya, perlu perubahan mendasar tapi dari hal yang kecil-kecil dulu. Tak bisa langsung besar-besaran karena memang belum cukup panjang nafas kader yang tersedianya untuk memenuhinya. Perbaikan ini harus dimulai saat ini juga. Tak ada saat bagi pecinta Muhammadiyah untuk terlena akan kebesarannya tanpa menilik bagaimana kondisi di dalamnya. Yang ada adalah saatnya untuk beraksi dan beraksi lagi.

Wahai para pecinta Muhammadiyah, coba cermati pesan Ahmad Dahlan yang satu ini, yang bisa dinikmati melalui M. Yusron Asrofie via buku Sistem Perkaderan Muhammadiyah:

Djanganlah kamu ber-teriak2 sanggup membela agama meskipun harus menyumbangkan djiwamu sekalipun. Djiwamu tak usah kau tawarkan, kalau Tuhan menghendakinja, entah dengan djalan sakit atau tidak, tentu akan mati sendiri. Tapi beranikah kamu menawarkan harta bendamu untuk kepentingan agama? Itulah jang lebih diperlukan pada waktu sekarang ini.